Showing posts with label Doa. Show all posts
Showing posts with label Doa. Show all posts

Wednesday, March 28, 2007

Musik dalam Alkitab

Musik dalam Alkitab


Tuhan Allah sangat menyukai musik. Dengan keagungan-Nya Ia menciptakan burung-burung indah yang berkicauan dengan suara merdu. Dalam kitab Wahyu kita membaca bahwa Dia yang berada di surga dikelilingi oleh musik. Pada setiap acara kebaktian di Bait Allah, musik memegang peranan yang sangat penting. Kitab 2Tawarikh 5:12-14 memperlihatkan betapa kemuliaan Tuhan memenuhi Bait Allah ketika umat-Nya mengumandangkan puji-pujian.

MUSIK

Musik mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap setiap makhluk hidup. Musik bisa memengaruhi pikiran dan hati manusia. Tanpa disadari, musik sangat memengaruhi suasana hati seseorang. Karena itulah, musik sangat ditekankan dalam pembuatan reklame; menggunakan musik pada suatu reklame akan merangsang keinginan pembeli untuk membelanjakan uangnya. Musik juga memegang peranan penting dalam dunia perfilman. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana menonton sebuah film hiburan yang tidak memakai musik sama sekali. Musik menolong seseorang dalam mengatasi suasana tegang di ruang tunggu dokter gigi; musik juga memberikan suasana yang menyenangkan di dalam sebuah restoran atau dalam sebuah super market. Tidak berhenti di situ saja, musik merupakan sebuah alat pengantara, musik sebagai sebuah pembawa berita. Kabar atau cara berpikir orang yang menciptakan musik disampaikan kepada pendengar melalui musik tersebut. Anda juga harus berhati-hati dalam memilih dan mendengarkan musik. Musik, yang diciptakan oleh seseorang atau sekelompok musikus yang kecanduan obat bius atau yang kerasukan setan, bisa sangat mengotori kehidupan penggemar musik jenis itu.

Sebagai contoh ekstrim, kita tentunya pernah membaca atau mendengar salah satu kelompok musik terkenal di Eropa dan di seluruh dunia, KISS (1979), yang merupakan singkatan resmi dari KNIGHTS IN SATAN`S SERVICE, dalam bahasa Indonesia berarti:
"Hulubalang-Hulubalang Setan". Atau "Hamba-Hamba dalam Pelayanan bagi Setan".

Berita yang mereka kumandangkan ialah penghancuran, penyalahgunaan seks, pemberontakan, revolusi, dan sebagainya. Walaupun mereka bisa menciptakan musik yang hebat, sering kali konser musik mereka diwarnai dengan pesta-pora seks, kemabukan, histeria, dan perusakan total di dalam gedung.

Sebaliknya, musik yang diciptakan oleh orang-orang kudus Allah, musik yang sengaja dibuat demi kehormatan Allah, akan mengangkat jiwa kita untuk mendekat kepada-Nya. Hal ini juga tergantung pada jenis musik tertentu. Setiap jenis musik bisa diamati, apakah musik jenis tertentu digunakan untuk menghancurkan manusia atau mengangkat jiwa manusia mendekat kepada Allah. Ingatlah akan cerita Raja Saul yang menderita tekanan jiwa. Pada saat Daud datang memainkan kecapi, Raja Saul kembali menjadi lega dan tenang.

MUSIK DAN AGAMA

Setiap kebudayaan memiliki musiknya sendiri. Melalui peralatan komunikasi modern kita diperkenalkan dengan musik dari berbagai kultur yang sering kali jauh berbeda dengan musik kita sendiri. Misalnya, musik dari Jepang, musik tiup dari Pegunungan Andes, atau tam-tam dart Afrika Tengah. Setiap agama memperkenalkan jenis musiknya sendiri.

Dari berbagai penelitian ditarik kesimpulan bahwa kebanyakan agama menyuguhkan musiknya dalam nada minor. Hampir setiap kali mereka menggunakan pertukaran nada atau irama yang menuntun pada ekstase. Siapa saja yang terbawa hanyut dalam arus ekstase, ia menemukan pintu masuk ke dalam dunia roh, dunia para dewa. Bandingkan dengan Jaran Kepang di Jawa atau tarian Cakalele di Ambon dan Minahasa atau tarian tertentu di Bali yang semuanya diiringi oleh bunyi-bunyian musik tertentu. Semuanya membuat seseorang mengalami sesuatu yang lain daripada kehidupan dunia normal. Dengan kata lain, ia dipimpin oleh musik tersebut untuk mencapai suatu dunia lain, dunia ekstase.

Dalam suatu konser musik pop, orang juga bisa dibuat menjadi histeris, biasanya dikenal dengan istilah kehilangan diri, atau tidak bisa menguasai dirinya lagi, sering kali diikuti dengan kemasukan roh. Hal ini terjadi melalui ritme yang dimainkan oleh kelompok pemusik tertentu. Hanya pada agama Yahudi dan Kristen, kita bisa menjumpai musik yang memberikan ketenangan batin serta sukacita. Kita menjumpai contoh musik seperti ini dalam Perjanjian Lama, tentang bagaimana hubungan manusia dengan Allah begitu menggebu-gebu dinyatakan dalam puji-pujian untuk kemuliaan Allah. Mereka memuji Allah bukan hanya karena sukacita, tetapi juga ketika berada di jurang ketakutan atau tekanan. Pada saat seperti ini, pujian itu selalu berakhir dengan kalimat, "Tetapi hanya Engkau, oh Tuhan, yang Mahakuasa. Kepada-Mu sajalah kuserahkan diriku."

Kitab Mazmur memberikan banyak sekali contoh tentang hal-hal seperti ini. Khususnya kalau kita membaca kejadian apa yang tersirat dalam sebuah mazmur ketika pujian tersebut dibuat.

PUJI-PUJIAN DALAM ALKITAB

Mazmur dan nyanyian pujian bagi kemuliaan Allah muncul berkali-kali di sepanjang isi Alkitab. Nabi Musa menyanyikan pujian bagi Allah setelah mereka menyeberangi Laut Teberau. Pada saat itu juga Miryam mengambil rebana lalu menari yang kemudian diikuti oleh semua perempuan Israel (Keluaran 15:1-21). Debora dan Barak pun menyanyikan pujian yang diakhiri dengan, "Tetapi orang yang mengasihi-Nya bagaikan matahari terbit dalam kemegahannya" (Hakim-Hakim 5:31).

Kita mengenal tembang indah Hana dalam 1Samuel 2. Dari Daud kita mengenal banyak mazmur dan pujian. Daud merupakan "Raja Agung" yang memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Allah. Penyebab utamanya antara lain ialah bahwa di usia mudanya ia sudah mengenal lagu pujian dan mazmur bagi Tuhan. Ratapan Yeremia tidak semuanya menggambarkan kesedihan atau kepahitan, meskipun kitab tersebut ditulis pada masa kesesakan Israel. Misalnya, Ratapan 3:22-25, yang berbunyi:

Tak berkesudahan kasih setia TUHAN,
tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi;
besar kesetiaan-Mu!
"TUHAN adalah bagianku," kata jiwaku, oleh sebab itu
aku berharap kepada-Nya. TUHAN adalah baik bagi orang
yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.

Dalam Perjanjian Baru kita juga membaca nyanyian pujian Maria serta mazmur Zakharia. Lalu, tahukah Anda berapa banyak lagu pujian yang tercatat dalam kitab Wahyu? Rasul Paulus mengajar orang Kristen yang masih muda agar bersikap sebagaimana mereka semestinya. Ia menulis kepada jemaat di Efesus, "dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati" (Efesus 5:19). Inilah yang menjadi dasar terpenting bagi kita untuk bernyanyi bersama anak-anak dalam ibadah.

BERNYANYI

Jikalau musik saja bisa begitu menyentuh jiwa, apalagi kata-kata yang menceritakan tentang Tuhan yang berjalan bersama dengan musik. Musik berfungsi sebagai corong yang mengalirkan firman Tuhan ke dalam hati manusia. Maka dari itu, pemilihan kata pada suatu pujian adalah sangat penting. Kata-kata yang disarikan secara tepat akan sangat menyentuh perasaan dan jiwa setiap orang. Hasil yang lebih besar lagi ialah bila sebuah lagu pujian DINYANYIKAN SENDIRI. Apa yang dipujikan dari hati dan mulut seseorang, itulah yang akan memberkatinya.

Ada banyak anak yang sehabis bermain di pinggir jalan langsung datang berbakti dalam persekutuan kita. Di luar persekutuan ini mereka tidak pernah mendengar segala sesuatu yang lazim bagi kita. Pengertian di dalam kata-kata seperti "cinta kasih", "hidup kekal", "dosa", "surga", "pengampunan", "gembala", dan juga nama Yesus, tidak dikenal atau dipergunakan secara salah. Jika anak-anak memujikan kata-kata seperti yang dimaksudkan di atas, sebenarnya mereka meletakkan kata-kata tersebut dalam mulut mereka. Mereka mendengar bahwa mereka juga mengucapkan kata-kata tersebut. Hal tersebut jauh lebih berhasil daripada hanya mendengar orang lain menyanyikannya. Hal ini akan menolong serta mengarahkan mereka untuk mengucapkan, berdoa, dan bersaksi.

Bernyanyi merupakan bagian dari waktu persekutuan kita, di mana anak-anak mengambil bagian secara aktif di dalamnya. Bernyanyi bersama akan memupuk rasa persekutuan yang erat di antara mereka. Bernyanyi bersama merupakan suatu kegiatan persekutuan yang mendorong agar semua orang terlibat di dalamnya. Bila ada seorang anggota baru, maka dengan menyanyi bersama kita menyambutnya dalam persekutuan, dan ia mengambil bagian dalam kelompok itu. Persekutuan merupakan salah satu bagian yang terpenting dalam kehidupan kristen kita. Dan bernyanyi bersama akan membuka jalan bagi kita untuk masuk dalam persekutuan tersebut.

Sumber:
Petunjuk untuk Pengasuh Sekolah Minggu: Anak dan Dunia, Tim Penulis dan Redaksi Yayasan Pekerjaan Pelayanan Anak Timotius, , Artikel Pujian dan Pemimpin Pujian, halaman 60 -- 61, Foundation Child and World, Netherlands.

Bernyanyi Bersama Anak Sekolah Minggu

Bernyanyi Bersama Anak Sekolah Minggu


Berikut ini "sharing" dari Ibu Debi Novita Rombe mengenai nyanyian dalam sekolah minggu. Jika ada rekan yang juga rindu membagikan opini, kesaksian, tulisan-tulisan seputar pelayanan anak, silakan kirimkan ke redaksi e-BinaAnak dengan alamat e-mail: ==> Kami akan memuatnya dalam kolom Karya Anda ini.

Rekan-rekan yang terkasih,

Saya sangat tertarik dengan topik nyanyian anak sekolah minggu. Mungkin kita perlu kembali berpikir, kenapa sih lagu-lagu begitu mendominasi kebaktian di sekolah minggu.

Ada beberapa alasan mengapa kita menggunakan nyanyian di sekolah minggu.

  1. Nyanyian memiliki pengaruh yang sangat besar bagi setiap manusia. Nyanyian (musik/irama dan lirik) memberikan rasa sedih, tenang, gembira, semangat, dll. kepada setiap pendengar/penyanyinya.
  2. Secara alami anak mudah terpesona oleh musik. Saya punya bayi berumur 7 bulan, sejak dalam kandungan dan masih bayi sering diputarkan musik klasik, dan dia menjadi tenang saat mendengarkannya. Saat lagi cengeng, lalu diputarkan lagu-lagu dari kaset Baby loves Hymne, lagu2 dari CD-nya Tasya, dll. pasti dia jadi tenang dan mendengarkan dengan seksama.

Pernyataan Alkitab tentang nyanyian:

  1. Matius 21:15-16: Tuhan sendiri meletakkan puji-pujian
  2. Mazmur 148 : Semua ciptaan Tuhan memuji Dia.

Lalu ada baiknya kita merenungkan kembali fungsi nyanyian di sekolah minggu, yaitu untuk mengajak anak memuji Tuhan (Mazmur 148, Mazmur 150, Roma 10:9, Yesaya 45:23, Roma 14:11), membantu mengajarkan kebenaran Alkitab, sebuah lagu akan lebih mudah dihafal daripada ayat yang panjang, sebuah perikop dalam Alkitab, atau konsep kebenaran Alkitab.

Musik juga dapat membangun suasana dalam ibadah. Hadirnya musik dan pujian dapat membawa perubahan suasana hati anak. Lagu yang gembira mengenai alam ciptaan akan membuat anak menyadari kuasa Tuhan atas seisi dunia, lagu yang lembut mengenai kasih Tuhan akan membawa anak menyadari pengorbanan Kristus bagi mereka, dsb.
Contoh: Bunga-Bunga yang Di Padang, Karena Begitu Allah Cinta Dunia.

Dengan musik, kita juga dapat membangun persekutuan yang penuh kasih. Ibadah memiliki dua aspek penting. Pertama, persekutuan dengan Tuhan (hubungan vertikal), kedua persekutuan dengan sesama orang percaya (hubungan horisontal). Dengan musik dan pujian, anak- anak dapat dikondisikan untuk saling berinteraksi, baik dengan sesama anak-anak SM maupun dengan guru SM. Misalnya: menyanyikan lagu sambil berjabat tangan, melakukan gerakan secara berpasangan, menyanyi bersahutan, dsb.

Musik dan pujian dapat membantu seseorang dalam mengungkapkan perasaan terdalamnya pada Tuhan, betapa dia mengasihi Allah, berterima kasih, bersyukur akan kasih Allah, menyesali dosanya, dan memohon ampun pada Allah.

Berdasarkan uraian di atas, kita harus bisa memilih nyanyian yang baik bagi anak.

  1. Lirik harus punya doktrin yang alkitabiah
  2. Jangan gunakan lagu yang kedengarannya enak di telinga tanpa lebih dulu mengevaluasi liriknya. Akan sangat sulit mengubah pengajaran yang salah pada lagu/musik yang sudah terlanjur disukai.
  3. Sesuaikan lirik, melodi, dan nada dasar dengan umur anak SM.
  4. Anak-anak memiliki range suara seperti wanita dewasa (soprano).
    Hati-hati untuk guru yang memiliki suara alto atau guru pria.
  5. Jangan meminta anak-anak untuk menyanyi terlalu keras, karena akan merusak pita suara mereka.
  6. Lagu-lagu himne bisa diajarkan. Anak-anak kecil tentu memerlukan nyanyian yang lebih khusus. Namun, ada baiknya mengajar nyanyian gereja yang dapat menjadi milik mereka seumur hidup. Tentu kata- kata yang sulit harus dijelaskan.
  7. Gerakan harus berfokus pada lirik (kata-kata).

Segitu saja "sharing" dari saya. Uraian di atas saya ambil dari makalah pelatihan yang saya bawakan di gereja saya untuk guru-guru sekolah minggu. Sumbernya rata-rata diambil dari e-BinaAnak edisi 42, 43, 80, dan 128. Ada baiknya bila rekan-rekan membacanya dan merenungkannya baik-baik sehingga nantinya kita bisa dengan bijak memutuskan, mana lagu yang baik untuk kita nyanyikan bersama anak dan mana yang tidak.

Saya sendiri sudah punya anak berusia 7 bulan, dan tentu saya cukup selektif dalam memilih nyanyian yang saya putarkan di tape/CD buat anak saya. Tidak sembarang lagu, tapi hanya lagu-lagu yang baik dan membangun dirinya (selain lagu gereja, saya juga sering putarkan lagu2 karangan Ibu Sud dan AT Mahmud, dan lagu-lagu lainnya yang melodi dan liriknya baik).

Kreasi Pujian di Sekolah Minggu

Kreasi Pujian di Sekolah Minggu


Anak-anak akan sangat mudah mengingat pengajaran yang ada dalam sebuah lagu jika lagu tersebut dibawakan dengan kreasi khusus, dibandingkan dengan pujian yang hanya dinyanyikan dengan tepuk tangan saja. Berikut ini beberapa kreasi lagu yang dapat menjadi ide untuk pelayanan musik di sekolah minggu kita.

1. SUKA ATAU DUKA

Lagu: Jalan serta Yesus, Jalan sertanya-Nya setiap hari
Jalan serta Yesus, serta Yesus selamanya.
Reff: Jalan dalam suka, jalan dalam duka
Jalan serta-Nya setiap hari,
Jalan dalam suka, jalan dalam duka
serta Yesus slamanya.

Pada saat kata "suka" diucapkan, anak diminta bergaya mengangkat tangannya bersorak-sorai sambil tersenyum. Sedangkan pada saat menyanyikan kata "duka", anak diminta bergaya menangis. Lalu di akhir lagu guru menunjukkan kepada satu anak secara acak, sambil berkata "suka". Misalnya, si A yang ditunjuk, maka ia harus segera mengangkat tangannya sambil tersenyum. Sebaliknya, jika guru menunjuk dia sambil berkata, "duka", ia harus bergaya menangis. Guru dapat menunjuk sembarang anak, supaya anak tidak dapat menduga kapan gilirannya akan ditunjuk. Intinya: guru tinggal menunjuk sambil berkata suka atau duka, dan anak menjawab dengan gaya mengangkat tangan atau menangis. Kreasi sederhana ini sangat menarik buat anak-anak. Tekankan juga makna lagu ini, bahwa dalam keadaan apa pun jangan lupa bahwa Tuhan Yesus sahabat anak-anak yang setia menghibur dan menemani mereka.

2. TERIMA KASIH TUHAN

Lagu: Terima kasih Tuhan untuk kasih setia-Mu
Yang kualami dalam hidupku
Terima kasih Yesus untuk kebaikan-Mu, sepanjang hidupku
Reff: Terima kasih Yesusku, sbab anugrah yang Kau bri
Sbab hari ini Tuhan adakan, syukur bagi-Mu

Lagu penyembahan yang bertemakan pengucapan syukur ini menjadi sangat indah bila divariasi sebagai berikut. Setelah lagu dinyanyikan 1-2 kali, mintalah musik pengiring memainkan pujian ini secara instrumental saja (dengan volume amat lembut).

Ajak anak dalam sikap doa ....

Kemudian mintalah kepada semua anak, untuk satu demi satu mengucapkan kalimat pengucapan syukur dengan suara keras, sementara anak yang lain mengamini dalam hatinya. Setelah anak tersebut selesai (mengucapkan satu kalimat), anak yang lainnya dapat menyusul dengan mengucapkan satu kalimat pengucapan syukur yang lainnya.

Contoh kalimat pengucapan syukur:

"Terima kasih Tuhan, Engkau sangat baik bagiku" "Terima kasih Tuhan atas pakaian dan makanan yang Engkau berikan" "Oh, Tuhan kami bersyukur atas orang tua yang Kau berikan pada kami" "Terima kasih Yesus, Engkau telah memimpin studi kami", dan sebagainya.

Akan lebih baik, kalau meminta semua anak mengucapkan kalimat pengucapan syukur secara berurutan, dari anak paling ujung kiri, dilanjutkan ke anak di sebelah kanannya sampai selesai. Selingi juga dengan menyanyikan lagu ini sesekali bila anak cukup banyak, namun batasilah agar tidak terlalu lama karena akan akan menimbulkan kelelahan. Agar kreasi ini berjalan lancar, guru perlu mempersiapkan kalimat apa yang akan diucapkan oleh setiap anak dalam pengucapan syukur ini. Untuk anak kecil-sedang, guru dapat membuatkan kalimat hal apa yang perlu disyukuri oleh anak-anak. Tetapi untuk anak kelas besar, guru dapat meminta setiap anak menulis (membuat sendiri) satu kalimat pengucapan syukurnya.

Sumber:
  • Teknik Kreatif dan Terpadu dalam Mengajar Sekolah Minggu, Paulus Lie, , halaman 14--16, Yayasan Andi, Yogyakarta, 1999.
  • Musik di Sekolah Minggu

    Musik di Sekolah Minggu


    KUASA MUSIK

    Musik merupakan alat komunikasi yang memiliki kuasa. Musik dapat memberikan hiburan, menguasai suasana hati, dan dapat pula menimbulkan beberapa reaksi sehingga orang bisa bertepuk tangan, mencucurkan air mata, atau tersenyum. Di samping itu, musik dapat pula menimbulkan bermacam-macam perasaan pada diri seseorang. Musik dapat merusak akhlak atau menggembirakan, membunuh atau menyembuhkan, memberikan terang atau gelap. Musik adalah bahasa dunia yang dimengerti oleh semua orang. Karena itulah, kita sebagai pendidik Kristen bertanggung jawab memanfaatkannya sebagai pengungkapan kekristenan yang efektif. Sekolah minggu harus mendidik anak-anak, kaum muda, dan orang dewasa sehingga mereka dapat mengerti, menghargai, bahkan ikut serta dalam kegiatan musik Kristen.

    TUJUAN MUSIK DI SEKOLAH MINGGU

    Mengapa kita menyanyi di sekolah minggu? Apakah hal itu hanya merupakan suatu kebiasaan sebab termasuk tata cara kebaktian? Apakah sekadar untuk mengisi waktu saja? Tidak, musik bermanfaat untuk maksud-maksud yang lebih mulia.

    Musik Sebagai Suatu Cara Memberikan Pengajaran

    Ada dikatakan bahwa doktrin kita itu lebih banyak diambil dari buku nyanyian gereja daripada buku teologi. Musik membantu untuk menopang dan meneguhkan firman Allah. Kebenaran-kebenaran Alkitabiah sering kali dapat dipelajari lebih cepat dan diingat lebih lama dengan menggunakan musik daripada dengan kata-kata atau tulisan. Sering kali nyanyian lebih mudah diingat daripada cerita, ceramah, atau pelajaran-pelajaran yang tertulis. Musik dapat dipakai untuk menyiapkan hati dan pikiran orang dalam menerima pengajaran.

    Musik Sebagai Suatu Cara Penyembahan

    Musik merupakan cara yang berguna dan indah untuk menyatakan pikiran, perasaan, dan keinginan kita kepada Tuhan. Musik mempersiapkan kita untuk menyembah dengan menciptakan suasana dan sikap yang hormat dan tertib. Seusai firman Tuhan, musik bermanfaat sebagai suatu tindakan penyerahan kepada Tuhan yang sesuai dengan kebenaran yang baru kita terima. Pendek kata, kita memuji dalam suasana penyembahan karena kita mengasihi Tuhan, ingin mempermuliakan Tuhan, dan ingin menolong orang lain supaya lebih dekat kepada-Nya.

    Musik Sebagai Suatu Cara Pengungkapan

    Musik dipakai untuk mempersatukan jemaat dalam suatu aktivitas bersama dan menciptakan perasaan bahwa tiap-tiap orang termasuk dalam kelompok itu. Melalui musik kita juga dapat mengungkapkan perasaan dan sikap serta memberi jalan keluar untuk tenaga kita. Melalui musik kita memberi kesaksian tentang iman kita kepada Kristus. Pada umumnya musik digunakan sebagai nyanyian bersama dalam acara pembukaan atau penutup. Tetapi di samping itu, musik di sekolah minggu dapat juga dipakai dalam cara-cara berikut.

    1. Pakailah Musik Sebagai Tanda Pergantian Acara
      Suatu nyanyian tertentu dapat menandakan bahwa waktunya bermain sudah selesai, puji-pujian baru dimulai, pelajaran di kelas sudah berakhir, dan sebagainya.
    2. Pakailah Musik untuk Menciptakan Suasana yang Khusus
      Pada acara pembukaan, pakailah puji-pujian yang bersemangat untuk menyambut datangnya anak-anak. Sementara nyanyian yang tenang dipakai untuk menciptakan suasana penyembahan. Berbagai macam musik rekaman dapat digunakan sebagai latar belakang ketika berdoa atau sementara mengerjakan pekerjaan tangan.

      Gunakan bakat musik anak-anak itu, yaitu bakat untuk menyanyi maupun memainkan alat musik. Suruh mereka tampil dalam nyanyian atau permainan, solo, atau dalam grup.

    MEMILIH MUSIK

    Karena musik merupakan bagian yang penting dalam pelayanan di sekolah minggu, Saudara harus berhati-hati dalam memilih nyanyian- nyanyian yang hendak Saudara gunakan. Berikut ini terdapat beberapa pertanyaan yang dapat Saudara pakai untuk menguji pilihan nyanyian- nyanyian itu.

    1. Apakah arti kata-katanya jelas? Ada cerita-cerita lucu yang dengan jelas menyatakan bahwa sering kali anak kecil tidak mengerti kata-kata dalam nyanyian yang dinyanyikannya. Lalu dia cenderung untuk mengubah artinya sehingga menjadi sesuatu yang ia mengerti, misalnya, "Tuhan Yesus tidak bertobat," dan "Di salib, di salib, aku pikul dosaku," "Kasih buat Tuhan." Jangan lupa untuk menerangkan kata-kata yang baru atau yang sukar.
    2. Dapatkah anak-anak mengalami apa yang dinyatakan oleh nyanyian itu? Nyanyian itu harus mengenai pengalaman-pengalaman yang sudah mereka kenal, yang terjadi di dalam dunia mereka.
    3. Apakah nyanyian itu mengungkapkan kebenaran firman Allah dengan tepat? Nyanyian itu harus menyatakan paham-paham Alkitab yang benar dan harus mempunyai nilai rohani.
    4. Apakah musik itu cocok dengan kata-kata nyanyian? Pesan dalam nyanyian itu harus dipertajam dengan lagunya.
    5. Apakah musik itu cocok dengan seluruh tujuan kebaktian itu?

    MERENCANAKAN PENGGUNAAN MUSIK

    Ingatlah akan prinsip-prinsip di bawah ini saat Saudara merencanakan penggunaan musik di sekolah minggu.

    1. Usahakan adanya keseimbangan. Pilihlah nyanyian penyembahan, kesaksian dan penyerahan. Gunakan koor-koor dan nyanyian-nyanyian gereja.
    2. Usahakan variasi. Tempo, irama, dan jenis nyanyian harus berbeda- beda. Pakailah beberapa nyanyian yang sudah sering dinyanyikan dan beberapa nyanyian baru. Catatlah nyanyian-nyanyian yang dinyanyikan itu untuk menjaga agar Saudara tidak terus-menerus menyanyikan nyanyian tertentu saja.
    3. Usahakan pula keserasian. Cocokkan nyanyian-nyanyian itu satu dengan yang lain dan dengan tema kebaktian saat itu.

    MENGAJAR NYANYIAN BARU

    1. Pelajarilah nyanyian itu dengan baik sehingga nanti Saudara dapat menyanyikannya tanpa salah.
    2. Mintalah beberapa anak atau guru menyanyikan nyanyian baru itu sebagai nyanyian istimewa.
    3. Tuliskanlah kata-kata nyanyian itu pada papan tulis. Hapuslah beberapa baris sementara anak-anak mempelajarinya.
    4. Buatlah gambar-gambar mengenai kata-kata nyanyian itu. Gambar- gambar itu harus menyampaikan maksud yang tepat dari kata-kata nyanyian itu.
    5. Terangkanlah arti kata-kata yang baru atau yang sukar. Tanyakan pendapat anak-anak tentang maksud penulis dalam nyanyian itu.
    6. Nyanyikanlah nyanyian itu dengan berbagai cara. Bagilah anak- anak itu menjadi dua kelompok, yaitu kelompok laki-laki dan kelompok perempuan. Kemudian secara bergantian kelompok yang satu menyanyi dan kelompok yang lain mendengar. Atau guru-guru menyanyikan pembukanya dan anak-anak ikut menyanyi pada koornya. Ubahlah tempo atau kerasnya suara, satu bait dinyanyikan dengan perlahan-lahan sebagai doa, bait yang lain lebih cepat. Tetapi jangan mendorong anak-anak menyanyi dengan keras semata-mata karena ingin mendengar betapa kerasnya suara mereka.

    MUSIK UNTUK ANAK-ANAK PRASEKOLAH

    Pilih nyanyian-nyanyian yang pendek, yaitu antara dua sampai empat baris saja. Pilih nyanyian yang dapat dinyanyikan berulang-ulang dan dengan berbagai cara hanya dengan mengubah beberapa katanya. Pilihlah nyanyian-nyanyian dengan lagu dan irama yang sederhana. Anak-anak kecil suka nyanyian yang menggunakan gerakan dan dengan iringan alat-alat musik yang sederhana, misalnya kaleng kosong, kayu, rebana, dsb.

    MUSIK UNTUK ANAK PRATAMA DAN MADYA

    Ajarlah mereka menghargai musik gereja. Pelajarilah nyanyian dan pengarangnya. Terangkan arti doktrin nyanyian-nyanyian itu. Mintalah mereka mengarang nyanyiannya sendiri. Dorong mereka agar mengabdikan bakat musiknya itu untuk Tuhan. Mulailah pergunakan anak-anak untuk menyanyikan nyanyian solo, duet, dsb. Sebelumnya, hendaklah Saudara pastikan bahwa mereka memiliki tingkat kecakapan tertentu untuk menyanyi dan bermain alat musik. Terangkan bahwa dalam menyanyi dan bermain musik itu, Tuhan menginginkan agar kita melakukannya dengan sebaik-baiknya. Bentuklah paduan suara yang terdiri dari anak kelas pratama dan/atau madya.

    Sumber:
  • Buku Pintar Sekolah Minggu jilid 1, , halaman 224--226, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1997.
  • Untuk Apakah Doa Itu?

    Untuk Apakah Doa Itu?


    Tujuan doa adalah agar kita dapat lebih dekat dengan Allah. Pada saat kita berkata kepada Allah tentang permintaan maaf atas dosa- dosa kita, mengucapkan syukur atas segala yang telah diperbuat Allah dan mengajukan permohonan pertolongan kepada Allah, Allah mulai mengubah kita. Allah mulai mengubah pikiran-pikiran dan kemauan- kemauan kita, dan Dia akan memperlihatkan kepada kita apa yang Dia inginkan untuk kita lakukan. Kita akan menjadi lebih mengasihi dan melihat hal-hal dari sudut pandang Allah. Demikian juga, doa memberi kita suatu kesempatan untuk mengatakan, "Kehendak-Mu jadilah". Inilah jalan bagi kita untuk bekerja sama dengan Allah dalam mengubah dunia. Pikirkanlah dengan cara ini: Allah adalah Bapa kita. Dia mencintai dan ingin memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita, mengajar bagaimana kita harus hidup, menjaga kita, dan memakai kita. Dia ingin menjadi sahabat kita. Para pendoa mohon kepada-Nya untuk melakukan hal itu dalam hidup kita. Kita berdoa karena doa itu mengundang Bapa kita yang tercinta untuk bekerja dalam hidup kita dan dalam dunia ini.

    Ayat Kunci

    Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu (Yohanes 16:24).

    Ayat Terkait

    Mazmur 4:2; 17:6; Filipi 4:6; Yakobus 5:16; 1 Petrus 3:12

    Catatan untuk Para Pelayan Anak

    Doa adalah sesuatu yang hampir sama dengan percakapan antara orang tua dengan anaknya. Analogi ini akan membantu Anda menjelaskan tentang masalah doa.

    Sumber:
  • 107 Pertanyaan Anak-anak tentang Doa (Terjemahan dari 107 Question Children Ask about Prayer), Dave Verman, Jim Galvin, Jim Wilhoit, Daryl Lucas, Rick Osborne, Jon Farfar, Lil Crump, , halaman 2, Betlehem Publishers, Jakarta, 1998.
  • Mendidik Anak Berdoa Kapan dan di Mana Saja

    Mendidik Anak Berdoa Kapan dan di Mana Saja


    Salah satu cara untuk mengajarkan arti penting doa kepada anak-anak adalah dengan mengatakan bahwa mereka dapat berdoa kapan dan di mana saja.

    1. Biarkan anak tahu bahwa mereka diizinkan 100% untuk berdoa kapan dan di mana saja. Ia bisa berdoa:

      • sendirian atau bersama dengan orang lain;
      • perlahan-lahan di dalam hati atau dengan suara keras;
      • panjang atau pendek;
      • bagaimana saja!
    2. Biarkan anak tahu bahwa ia tidak perlu menunda doanya sampai tiba saatnya mereka harus ke Sekolah Minggu, atau menunggu sampai jam doa keluarga sebelum ia tidur. Ia bisa berdoa begitu dia memiliki kebutuhan. Allah mempunyai kebijaksanaan terbuka siang dan malam.

    3. Yakinkan anak bahwa tempat mana pun di dunia bisa menjadi ruang doa.

      • Daniel berdoa di gua penuh singa lapar.
      • Sadrakh, Mesakh, dan Abednego berdoa di dalam tungku panas membara, bahkan ketika ada raja yang marah dan orang-orang yang menyaksikan.
      • Petrus berseru dalam doa ketika ia mulai tenggelam setelah berjalan di air Danau Galilea, dengan semua murid lain menyaksikan dari kapal.
      • Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan pujian di sel penjara.
    4. Yakinkan anak bahwa Allah Bapa selalu mendengar doanya dan akan bertindak demi dia. Itulah yang ditujukan Yesus ketika Ia berhenti dalam perjalanan melalui Yerikho untuk menyembuhkan orang buta bernama Bartimeus, ketika Ia berhenti dalam perjalanan ke rumah Yairus untuk menyembuhkan seorang perempuan yang menjamah jubah-Nya, ketia Ia memotong khotbah-Nya sendiri untuk menyembuhkan orang dengan tangan cacat, dan ketika Ia menunda retreat doa untuk berbicara dengan anak-anak.

    5. Biarkan anak tahu bahwa doa adalah waktu untuk komunikasi langsung antara anak dan Tuhan.

    Sumber:
    52 Cara Sederhana Mengajak Anak Anda Berdoa, Roberta Hromas, , Bab52 Cara Sederhana Mengajak Anak Anda Berdoa, halaman 111 - 113, Interaksara, Batam Centre, 1999.

    Proyek Mempraktikkan Doa

    Proyek Mempraktikkan Doa


    Bagaimana anak dapat mengerti arti penting berdoa tergantung dari bagaimana kita sebagai guru rohani membimbing mereka untuk berdoa dalam kelas setiap minggunya.

    UNTUK ANAK YANG BELUM SEKOLAH

    Kita lipat tangan kita. Ketika kita menggoyang-goyangkan ibu jari, kita katakan, "Berdoa adalah berbicara kepada Tuhan Yesus. Apa yang ingin kamu katakan pada Yesus? Kita bisa bersyukur kepada-Nya, memuji Dia atau mengatakan sesuatu kepada Dia."

    "Tiga jari berikutnya mengingatkan kita untuk mendoakan orang lain. Siapa yang ingin kita doakan? Keluarga kita? Penginjil kita? Guru kita? Mereka yang sedang sakit? Mereka yang ada di gereja? Mari kita berdoa untuk orang lain.

    "Ketika kita menggoyang-goyangkan jari kelingking kita, kita memikirkan diri kita sendiri. Apa yang ingin kamu doakan? Apa yang ingin kamu butuhkan dan ingin kamu katakan kepada Yesus?"

    Proses seperti ini melatih anak-anak yang belum sekolah untuk menempatkan Yesus sebagai yang terutama, yang lain sebagai urutan berikutnya, dan dirinya sendiri sebagai yang terakhir.

    UNTUK ANAK-ANAK USIA SEKOLAH

    Anda bisa melatih anak-anak yang usianya lebih dewasa tentang prinsip-prinsip berdoa, misalnya memuji, mengaku dosa, mengucap syukur, dan permohonan. Pastikan ada waktu untuk menjelaskan arti dari masing-masing prinsip tersebut sebelum mengajarkan teknik berdoa ini.

    Karena doa adalah suatu hak istimewa, saya akan menjelaskan pada murid-murid alasan kita menutup mata dan melipat tangan pada waktu berdoa. Alasan melakukan hal itu adalah untuk memfokuskan diri supaya benar-benar memberikan perhatian kepada Tuhan. Jika kita melihat ke sekeliling kita atau meresahkan sesuatu, kita menjadi kurang memfokuskan diri pada Tuhan. Apakah Tuhan menjawab doa-doa hanya jika anak-anak duduk tenang dan menutup mata serta melipat tangan mereka? Tidak. Tuhan menjawab doa-doa yang kita panjatkan dari hati kita, tetapi tangan yang tenang membantu hati kita untuk menjadi lebih tenang.

    PASANGAN DALAM BERDOA (UNTUK ANAK-ANAK KELAS BESAR)

    Akan tiba saatnya bagi anak-anak ketika mereka tidak nyaman lagi menceritakan permohonan doa pribadi mereka kepada teman-teman sekelasnya. Ini mungkin saatnya untuk mengenalkan ide tentang pasangan dalam berdoa. Pasangkan setiap anak dengan seorang teman sekelas mereka yang menurut Anda akan menjadi pasangan doa yang cocok. Berikan waktu bagi mereka setiap hari Minggu untuk berdoa bersama. Tekankan bahwa ini adalah waktu untuk berdoa dan bukan untuk bergosip atau bermain-main. Adalah sangat penting untuk melatih murid-murid kita supaya bijaksana dan tidak menirukan permohonan doa seseorang sebagai gurauan. Tidak ada yang akan lebih menyakitkan bagi anak-anak selain mencurigai bahwa kemampuan mereka sangat lemah. Misalnya, seorang anak mungkin sudah sejak lama memiliki beban karena dia mempunyai seorang ayah yang pemabuk. Dalam menyingkap rahasia pribadi dan situasi yang menyakitkan ini, dia senang bila mengetahui orang lain berdoa untuknya. Namun, jika kata "dia dan ayahnya yang pemabuk" sampai pada orang tua anak tersebut, dia akan marah. Sharing yang sifatnya rahasia dalam situasi yang dapat dipercaya sekarang menjadi suatu tragedi. Betapa menyedihkannya. Betapa tidak pentingnya. Hormatilah hak setiap anak untuk mendapatkan kerahasiaan. (t/Ratri)

    Sumber:
  • Becoming a Treasured Teacher: Practical Strategies for Making a Lasting Difference in Young Lives, Jody Capehart, , BabPractical Prayer Project, halaman 66 - 67, Victor Books, 1992.
  • Makna Doa Bagi Seorang Anak

    Makna Doa Bagi Seorang Anak


    "Allah Bapa, terima kasih atas mama dan papa dan Carol dan Don dan Tippy. Tolong aku untuk menjadi seorang penolong yang baik kalau kami memotong rumput besok."

    Doa Billy menunjukkan pengertian seorang anak yang mengagumkan tentang realitas Allah. Ia mengungkapkan kepedulian terhadap orang- orang yang berarti dalam hidupnya dengan menyebutkan nama mereka satu per satu di dalam doanya. Kadang-kadang ia membuat daftar doa tentang hal-hal yang ia inginkan untuk dirinya sendiri. Ia menyukai doa, karena doa memberinya rasa aman dan perasaan mampu. Rasa aman timbul dari pengertian bahwa Allah mendengarnya bila ia berdoa dan bahwa segala sesuatu pasti berjalan dengan baik. Perasaan mampu timbul karena ia dapat berbicara langsung kepada Pribadi yang begitu penting dan tahu bahwa Dia akan melakukan yang terbaik baginya.

    Namun, anak memiliki kesadaran yang sangat minim tentang arti doa. Jeffrey, berusia empat tahun, memahami doa seperti peristiwa- peristiwa yang terjadi secara harfiah, "Dan kemudian angin datang, menghembuskan doa-doa ke surga tempat Allah berada." Anna, berusia lima tahun, percaya bahwa kegagalan untuk memperoleh jawaban yang diharapkan adalah karena kesalahan transmisi pada dirinya. "Kamu harus tahu kata-kata yang tepat agar doamu dikabulkan."

    Seorang gadis kecil tak mau lagi berdoa sebelum tidur sejak keluarganya pindah ke rumah baru. Orang tuanya akhirnya mengerti bahwa dulu ketika mereka tinggal tak jauh dari gereja, Melanie tidak mengalami kesulitan untuk percaya bahwa Allah sungguh-sungguh mendengar doanya. Tetapi saat pindah ke kota lain, ia sulit percaya bahwa doanya masih dapat didengar, karena letak "rumah Allah" jauh dari rumahnya.

    Pernyataan-pernyataan tentang doa seperti ini sering diutarakan anak-anak dan hal tersebut menggambarkan dilema ganda yang disebabkan oleh pemahaman anak yang kabur tentang makna doa, ditambah lagi dengan kepastian yang kuat bahwa pengertiannya, apa pun isinya, adalah benar. Pengertian anak tentang doa amat diwarnai oleh pengertiannya tentang Allah. Dan hal ini tergantung pada sejauh mana pemahamannya tentang Allah. Jika Allah merupakan makhluk yang dapat dilihat secara fisik, dan tinggal entah di gedung gereja atau di atas awan yang tebal, menyampaikan pesan kepada-Nya lewat doa dapat menjadi tantangan yang besar.

    Bahkan jika anak menerima gagasan bahwa Allah mendengar doa kita, doa seorang anak juga mencerminkan dimensi lain dari tingkat pemikiran anak tersebut. Oleh sebab itu, wajarlah jika sebagian besar proporsi doa-doanya berpusat pada diri sendiri, sesuai dengan pandangan dasar egosentris anak. Jika anak berdoa untuk orang lain, permintaan seringkali diungkapkan dari segi hubungan orang itu dengan dirinya. Misalnya, Dina yang berusia lima tahun berdoa, "Dan saya mohon tolonglah agar Mama dan Papa mengasihi saya." Karena hubungan kasih sayang merupakan hal yang paling menyenangkan dalam hidup Dina, maka sangatlah wajar jika ia menaikkan doa semacam ini. Ia belum menyadari bahwa orang tuanya dan dirinya merupakan pribadi- pribadi yang terpisah, yang terkadang melakukan hal-hal yang tak berhubungan dengannya. Pengertian ini baru akan muncul beberapa tahun kemudian, setelah ia semakin lama menjalani hidup bersama orang tuanya.

    Hampir sama dengan itu, anak-anak lebih tertarik pada doa-doa mereka sendiri daripada doa-doa orang lain. Karena kebanyakan doa-doa orang dewasa yang diamati anak-anak, khususnya di gereja, agak panjang (amat panjang menurut anak-anak), dan karena itu, agak membosankan (amat membosankan menurut anak-anak). Doa-doa orang lain cenderung kurang diminati anak.

    Secara umum, anak-anak di bawah usia tujuh tahun biasanya memandang doa sebagai bentuk pemahaman akan Allah untuk hal-hal tertentu. Mereka cenderung berasumsi bahwa Allah memiliki kewajiban untuk melakukan apa yang mereka minta, dan tidak pada tempatnya untuk marah kepada Allah jika doa mereka tidak dijawab. Pada usia tujuh sampai sembilan tahun, anak-anak mulai memandang doa sebagai komunikasi dengan Allah, bukan sekadar meminta. Namun, permintaan masih cukup mendominasi isi doa anak-anak usia ini, meskipun banyak di antara isi doanya yang ditujukan demi kepentingan orang lain, termasuk binatang-binatang peliharaannya. Anak tidak marah kepada Allah jika doanya tidak terjawab. Sebaliknya, anak seusia ini cenderung mempertanyakan apakah doanya sudah diucapkan dengan kata- kata yang benar dan cukup tulus.

    Mungkin karena konsep anak tentang doa begitu samar, kebanyakan perasaan, pikiran, dan apa yang dilakukan anak berkenaan dengan doa ditentukan oleh contoh doa orang dewasa yang ia amati. Jika contoh- contoh doa yang mereka amati berupa rangkaian kata-kata panjang dan formal kepada Allah, anak cenderung menyimpulkan bahwa doa itu membosankan. Jika doa itu ringkas, informal dan dengan masalah- masalah yang berkenaan dengan anak, doa akan dipandang sebagai suatu hal yang positif.

    Sumber:
  • Mengenalkan Allah Kepada Anak (Terjemahan dari Teaching Your Child About God), Wes Haystead, , BabAnak dan Doa, halaman 109 - 111, Yayasan Gloria, Yogyakarta, 1996.

  • Pentingnya Berdoa

    Pentingnya Berdoa


    Di dalam surat Efesus 6:18 kita membaca kata-kata penuh kuasa yang menyatakan betapa pentingnya berdoa dengan tekun. "Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang kudus."

    Jika kita berhenti sejenak dan menimbang arti ayat itu serta mengaitkan apa yang tertulis di dalam surat Efesus tersebut dengan hidup kita, maka orang Kristen yang cerdas tentu tergerak hatinya dan akan berkata, "Aku harus berdoa, berdoa, sekali lagi berdoa. Aku harus berdoa dengan segenap tenaga dan segenap jiwaku. Apa pun yang harus kukerjakan, berdoa perlu kudahulukan."

    Perhatikanlah kata-kata "setiap waktu", "permohonan yang tak putus- putusnya", "segala orang kudus", dan "berjaga-jagalah" (artinya "tidak tidur") dalam ayat tersebut. Rasul Paulus sadar akan sifat manusia yang malas, terutama sifat malas untuk berdoa. Alangkah jarangnya kita berdoa sampai kita tahu bahwa kita telah memperoleh jawaban dari apa yang kita minta.

    Mengapakah doa yang tekun, tak kunjung padam, berjaga-jaga, dan berkemenangan begitu penting?

    1. Sebab ada Iblis. Dia mempunyai banyak tipu muslihat. Dia tidak pernah berhenti. Dia selalu membuat rencana untuk menjatuhkan anak-anak Tuhan. Jika anak-anak Tuhan lemah di dalam kewajibannya untuk berdoa, Iblis akan berhasil membujuk dia.
    2. Berdoa adalah jalan yang ditunjukkan Allah untuk menerima segala sesuatu; rahasia dari semua kegagalan yang kita alami di dalam hidup dan pekerjaan kita adalah karena melalaikan doa.

      Rasul Yakobus mengemukakan hal ini dengan tegas di dalam pasal 4 ayat 2 dari suratnya, "Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa." Kata-kata itu mengandung rahasia dari kemiskinan dan kelemahan orang Kristen yang umumnya karena lalai di dalam berdoa.

      Banyak orang Kristen bertanya, "Mengapa aku sedikit sekali maju di dalam kehidupan imanku?"

      "Lalai di dalam berdoa," begitulah jawab dari Allah. "Kamu tiada beroleh, sebab tiada kamu minta."

      Banyak guru sekolah Minggu bertanya: "Mengapa hanya sedikit yang bertobat di dalam kelas saya?"

      Jawab-Nya juga, "Lalai di dalam berdoa. Kamu tiada beroleh, sebab tiada kamu minta."

    3. Rasul-rasul dijadikan contoh oleh Allah sebagai orang Kristen yang berkenan di hadapan-Nya. Mereka mengemukakan hal berdoa sebagai pekerjaan yang terpenting di dalam hidup mereka.

      Bila tanggungan dari gereja pertama bertambah-tambah dan mendesak, mereka "menghimpunkan sekalian murid yang banyak itu, serta berkata, `Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja. Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu, dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman.`" Jelas sekali surat kiriman Rasul Paulus kepada gereja-gereja dan orang-orang saleh tentang doanya untuk mereka menunjukkan bahwa banyak sekali waktu dan tenaganya yang dipergunakan untuk berdoa (Roma 1:10; Efesus 1:16; Kolose 1:9; 1Tesalonika 3:10; 2Timotius 1:3).

    4. Berdoa mengambil tempat terkemuka dan merupakan suatu bagian yang amat penting di dalam kehidupan Tuhan Yesus selama Dia tinggal di dunia.

      Periksalah misalnya Markus 1:35. "Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia (Yesus) bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana." Hari yang telah lampau adalah hari yang sangat sibuk dan menggembirakan, tetapi Yesus mengurangi jam tidur-Nya, sehingga Ia boleh bangun pada dini hari dan bertambah tekun di dalam doa-Nya.

      Di dalam keempat Injil, perkataan berdoa dan doa dipakai sekurang-kurangnya dua puluh lima kali sehubungan dengan kehidupan Tuhan Yesus. Jelas sekali bahwa berdoa memakan banyak waktu dan tenaga Tuhan Yesus Kristus; seorang yang tidak menggunakan banyak waktunya di dalam doa tak dapat disebut sebagai pengikut Tuhan Yesus Kristus yang sungguh-sungguh.

    5. Doa adalah bagian terpenting dari pekerjaan Tuhan Yesus yang telah bangkit pada masa kini. Hal ini semakin menguatkan alasan kenapa kita harus berdoa dengan tekun, tak kunjung padam, berjaga-jaga dan berkemenangan.

      Pekerjaan Tuhan Yesus tidak berhenti sampai pada kematian-Nya saja. Pekerjaan penebusan dosa memang telah selesai pada waktu itu, tetapi bila Ia bangkit dan naik ke sorga serta duduk di sebelah kanan Allah Bapa, Ia mulai dengan pekerjaan lain untuk kita, yang sama pentingnya dengan pekerjaan penebusan dosa tersebut.

      Apa yang merupakan pekerjaan Tuhan Yesus yang besar bagi kesempurnaan iman kita, dapat kita baca di dalam Ibrani 7:25. Ayat itu menerangkan apa tujuan hidup-Nya sekarang, yaitu "memohonkan syafaat karena kita" dengan berdoa. Berdoa ialah pekerjaan terpenting yang diperbuat oleh-Nya pada hari ini. Karena doa-doa-Nya, maka Ia sedang menyempurnakan iman kita.

    Jika kita bekerja bersama-sama dengan Tuhan Yesus Kristus di dalam pekerjaan-Nya sekarang, kita harus menggunakan banyak waktu untuk berdoa; kita harus berusaha berdoa dengan sungguh-sungguh, tekun, dan tak kunjung padam, berjaga-jaga dan berkemenangan. Saya tidak mengetahui sesuatu hal lain yang dapat mempengaruhi saya demikian kuat untuk berdoa pada segala masa, dengan tekun, selain pengertian bahwa berdoa pada hari ini adalah pekerjaan terpenting dari Tuhan Yesus Kristus yang telah bangkit itu. Saya mau bersekutu dengan Dia, dan untuk mencapai maksud itu, saya telah minta kepada Tuhan, bagaimana Ia boleh menjadikan saya, paling tidak sebagai pengantara yang tahu bagaimana seharusnya berdoa serta sebagai orang yang menggunakan banyak waktunya untuk berdoa.

    Sumber:
  • Bagaimana Kita Patut Berdoa, R.A Torrey, , BabPentingnya Berdoa, halaman 5 - 11, YAKIN, Surabaya.
  • Hari Raya Pujian di Alkitab

    Hari Raya Pujian di Alkitab


    Persiapan:
    Melatih nyanyian atau musik yang disajikan selama ibadah hari ini. Boleh siapkan beberapa lagu instrumental/kaset yang memakai angklung, gitar, seruling, dll.

    Pendahuluan:
    Musik selalu memainkan peranan penting dalam ibadah anak-anak Tuhan. Sepanjang Pernjanjian Lama kita membaca bagaimana nyanyian-nyanyian dinyanyikan dan instrumen-instrumen dimainkan pada waktu orang banyak memuji dan berbakti kepada Allah. Melalui musik kita lebih dapat menyatakan kasih kita kepada Allah daripada dengan cara-cara lain. Mari kita menyembah Allah dengan musik hari ini.

    Pembacaan Alkitab:
    Minta anak-anak membuka Alkitabnya pada Mazmur 100 supaya mereka dapat membacanya bersama-sama Saudara pada waktunya. Perkenalkan Mazmur ini dengan memberi cerita di bawah ini.

    Cerita:
    Pada zaman dahulu Allah merencanakan satu waktu pengucapan syukur untuk umat-Nya. Dia meminta mereka berhenti bekerja selama seminggu penuh dan menggunakan waktu itu untuk berterima kasih kepada-Nya atas pemberian-pemberian baik yang telah Ia berikan kepada mereka. Allah ingin umat-Nya mengingat bahwa Dialah yang telah memberikan tuaian yang berlimpah-limpah dan rumah-rumah yang baik kepada mereka.

    Setiap tahun, di waktu musim gugur, setelah mereka menuai tuaian mereka dan menyimpan gandum dalam lumbung-lumbung serta mengumpulkan buah ara, kacang, dan kurma, mereka berhenti bekerja selama seminggu penuh. Setiap orang membungkus makanan yang terbaik beserta gandumnya dan pergi ke Yerusalem untuk mempersembahkan korban syukur dan memuji Allah. Ketika mendekati kota, mereka memotong dahan-dahan pohon untuk membuat tenda-tenda dari daun sebagai tempat tinggal selama mereka jauh dari rumah. Upacara ini disebut "Hari Raya Pondok Daun".

    Setiap hari selama seminggu penuh mereka harus ke Bait Suci untuk berbakti kepada Allah. Bersama-sama mereka melagukan satu nyanyian syukur kepada Allah untuk segala kebajikan-Nya. Mari bersama-sama membaca nyanyian yang telah mereka nyanyikan, yakni Mazmur 100.

    Doa:
    Satu doa pengucapan syukur atas kebajikan Allah, atas nyanyian yang diletakkan-Nya dalam hati kita, atas persediaan-Nya yang berlimpah- limpah untuk segala keperluan kita!

    Sumber:
  • Buku Pintar Sekolah Minggu jilid 1, , halaman 55, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1997.
  • Kriteria Memilih Musik

    Kriteria Memilih Musik


    Musik untuk anak tidak dapat dipilih begitu saja. Tentu saja ada kriteria yng harus dipenuhi agar kita tidak salah dalam memilih musik untuk anak, sehingga musik tersebut tidak sekedar menghibur tetapi mendidik. Berikut ini kriteria-kriteria pemilihan musik untuk anak usia 2-3 tahun, 4-5 tahun, dan untuk anak usia Sekolah Dasar.

    USIA 2-3 TAHUN

    1. Ritme
      Hendaknya tidak terlalu menyentak-nyentak atau "riang" (ditandai dengan simbol titik pada not), namun pakailah satu seri notasi yang sejenis dengan sedikit perubahan ritme. Pakailah lagu-lagu dengan tempo 2/4 atau 4/4, karena jenis inilah yang paling mudah merangsang gerak tubuh dan aktivitas (berjalan, berbaris, bertepuk tangan, dan lainnya)

    2. Melodi
      Hendaknya yang sederhana, indah, mudah untuk diikuti, lembut (tidak terlalu melompat-lompat) dan banyak pengulangan.

    3. Harmoni
      Hendaknya hanya memakai kunci kord-kord dasar saja (bukan diskord atau harmoni tertutup), serta perpindahan kord yang lembut yang ditandai dengan perpindahan kunci yang jarang. Nada yang dipakai hendaknya juga nada-nada mayor.

    4. Volume
      Hendaknya dinyanyikan dengan satu tingkatan yang umum, untuk mengkontraskan dengan crescendo atau perubahan-perubahan mendadak lainnya.

    5. Tempo
      Tempo hendaknya sedang saja, tapi juga tidak terlalu lambat sehingga mereka tidak menyanyi dengan nada yang terlalu panjang atau kehilangan minat jika mendengarkannya, dan juga tidak terlalu cepat sehingga mereka tidak dapat mengikuti dengan baik ketika menyanyi atau mendengarkan. Tempo juga hendaknya disesuaikan dengan kecepatan aktivitas yang mereka lakukan.

    6. Kualitas Nada Suara
      Hendaknya suara dapat dinikmati dan bebas dari suara-suara keras, tidak terlalu banyak memakai getaran suara (vibrasi) tapi juga tidak terlalu kurang sehingga membuat nada suara terdengar tipis atau bunyinya datar.

    7. Syair
      Lagu untuk usia ini hendaknya memakai syair kata-kata yang dapat mengkomunikasikan bidang pengalaman mereka. Kata-katanya juga harus mudah diucapkan, dibangun dengan huruf-huruf vokal, sederhana, dan diulang-ulang.

    USIA 4-5 TAHUN

    1. Ritme
      Guru dapat mengawali dengan memakai lagu-lagu yang memakai penekanan-penekanan irama ringan pada ritmenya, jika hal itu dapat membantu mereka menyelaraskan perkembangan sensitivitas mereka dalam mendengarkan ritme.

    2. Melodi
      Aturannya sama seperti untuk anak usia 2-3 tahun.

    3. Harmoni
      Guru dapat mulai memakai musik yang menggunakan beragam jenis kord tapi tetap dalam irama mayor.

    4. Volume
      Guru sudah dapat mulai memakai dinamik asalkan tetap lembut dan dipakai dengan tujuan sebagai penekanan.

    5. Tempo
      Guru dapat mulai meningkatkan tempo (membuatnya makin hidup) untuk menyesuaikan perkembangan aktivitas yang dilakukan, namun setiap lagu juga harus bervariasi.

    6. Kualitas Nada Suara
      Aturan yang sama seperti untuk anak usia 2-3 tahun.

    7. Syair
      Guru sudah dapat mulai menggunakan lagu-lagu yang memakai kata- kata baru sejauh masih dalam konteks kata-kata yang telah dikenal yang membawa makna dari kata-kata baru.

    8. Media
      Lagu-lagu masih harus dinyanyikan secara bersama-sama. Ajaklah anak-anak mendengarkan musik paduan suara, jika lagunya cukup sederhana, bagus dan berkualitas (hymne, tapi bukan lagu-lagu gospel atau koor). Mulailah sebuah kelompok ritme. Gunakan rekaman musik yang berhubungan dengan aktivitas yang dilakukan. Anak-anak mungkin ingin menambah dramatisasi lagu tersebut.

    9. Jenis
      Yang paling baik adalah dengan menggunakan lagu-lagu yang pendek dengan kalimat-kalimat yang diulang-ulang. Jaga agar lagu tetap dalam kecepatan rata-rata. Hubungkan musik dengan sikap penyembahan, pakailah musik yang sederhana namun berkualitas (tidak perlu lagu-lagu koor) untuk melakukannya. Anak-anak juga dapat mulai diajak menikmati sebuah konser musik organ, atau mendengarkan rekaman ataupun paduan suara gereja.

    USIA SEKOLAH DASAR

    1. Ritme
      Guru dapat memperkenalkan lagu-lagu dengan tempo 3/4 dan 6/8, dan dapat memakai bermacam-macam variasi ritme lainnya.

    2. Melodi
      Sudah dapat memakai lagu yang nadanya melompat-lompat, asalkan intervalnya masih berkisar 3 atau 4.

    3. Harmoni
      Aturan yang sama seperti untuk anak usia 4-5 tahun.

    4. Volume
      Guru dapat mulai memberi penekanan dinamik untuk meningkatkan ekspresi.

    5. Tempo
      Guru dapat memberi lebih banyak perbedaan antara satu lagu dengan lagu lainnya, namun hendaknya tetap tidak yang terlalu tajam.

    6. Kualitas Nada Suara
      Guru dapat memperkenalkan suara-suara baru lewat musik instrumentalia.

    7. Media
      Guru dapat memperkenalkan harmonisasi dua jenis suara dalam bernyanyi. Mengajak mereka mendengarkan paduan suara anak SMP dan musik instrumental. Memperkenalkan anak-anak dengan beragam nama- nama dan suara alat musik.

    8. Jenis
      Guru dapat mulai mengenalkan area-area baru dan jenis-jenis ekspresi musik yang lebih luas. Dia harus melanjutkan untuk menghubungkan penyembahan dengan musik yang baik. (t/Ary)

    Sumber:
    Childhood Education in the Church, Robert E. Clark, Joanne Brubaker, & Roy B. Zuck, , Artikel Criteria for Selecting Music, halaman 446 - 448, Moody Press, Chicago, 1986.

    Pengaruh Musik pada Anak

    Pengaruh Musik pada Anak


    Penelitian membuktikan bahwa musik, terutama musik klasik sangat mempengaruhi perkembangan IQ (Inteligent Quotien) dan EQ (Emotional Quotien). Seorang anak yang sejak kecil terbiasa mendengarkan musik akan mempunyai kecerdasan emosional dan intelegensi yang lebih berkembang dibandingkan dengan anak yang jarang mendengarkan musik. Yang dimaksud musik di sini adalah musik yang memiliki irama teratur dan nada-nada yang teratur, bukan nada-nada "miring". Tingkat kedisiplinan anak yang sering mendengarkan musik juga lebih baik dibanding dengan anak yang jarang mendengarkan musik.

    Grace Sudargo, seorang musisi dan pendidik mengatakan, "Dasar-dasar musik klasik secara umum berasal dari ritme denyut nadi manusia sehingga ia berperan besar dalam perkembangan otak, pembentukan jiwa, karakter, dan bahkan raga manusia."

    Penelitian menunjukkan, musik klasik yang mengandung komposisi nada berfluktuasi antara nada tinggi dan nada rendah akan merangsang kuadran C pada otak. Sampai usia 4 tahun, kuadran B dan C pada otak anak-anak akan berkembang hingga 80% dengan musik.

    "Musik sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Musik sendiri memiliki 3 bagian penting yaitu beat, ritme, dan harmony," demikian pendapat Ev. Andreas Christanday dalam suatu ceramah musik. "Beat mempengaruhi tubuh, ritme mempengaruhi jiwa, sedangkan harmony mempengaruhi roh." Contoh paling nyata bahwa beat sangat mempengaruhi tubuh adalah dalam konser musik rock. Bisa dipastikan tidak ada penonton maupun pemain dalam konser musik rock yang tubuhnya tidak bergerak. Semuanya bergoyang dengan dahsyat, bahkan cenderung lepas kontrol. Kita masih ingat dengan istilah "head bang", yakni suatu gerakan memutar-mutar kepala mengikuti irama music rock yang kencang. Dan tubuh itu mengikutinya seakan tanpa rasa lelah. Jika hati kita sedang susah, cobalah mendengarkan musik yang indah, yang memiliki irama (ritme) yang teratur. Perasaan kita akan lebih enak dan enteng. Bahkan di luar negeri, pihak rumah sakit banyak memperdengarkan lagu-lagu indah untuk membantu penyembuhan para pasiennya. Itu suatu bukti, bahwa ritme sangat mempengaruhi jiwa manusia. Sedangkan harmony sangat mempengaruhi roh. Jika kita menonton film horor, selalu terdengar harmony (melodi) yang menyayat hati, yang membuat bulu kuduk kita berdiri. Dalam ritual-ritual keagamaan juga banyak digunakan harmony yang membawa roh manusia masuk ke dalam alam penyembahan. Di dalam meditasi, manusia mendengar harmony dari suara-suara alam di sekelilingnya. "Musik yang baik bagi kehidupan manusia adalah musik yang seimbang antara beat, ritme, dan harmony," ujar Ev. Andreas Christanday.

    Seorang ahli biofisika telah melakukan suatu percobaan tentang pengaruh musik bagi kehidupan makhluk hidup. Dua tanaman dari jenis dan umur yang sama diletakkan pada tempat yang berbeda. Yang satu diletakkan dekat dengan pengeras suara (speaker) yang menyajikan lagu-lagu slow rock dan hard rock, sedangkan tanaman yang lain diletakkan dekat dengan speaker yang memperdengarkan lagu-lagu yang indah dan berirama teratur. Dalam beberapa hari terjadi perbedaan yang sangat mencolok. Tanaman yang berada di dekat speaker lagu-lagu rock menjadi layu dan mati, sedangkan tanaman yang berada di dekat speaker lagu-lagu indah tumbuh segar dan berbunga. Suatu bukti nyata bahwa musik sangat mempengaruhi kehidupan makhluk hidup.

    Alam semesta tercipta dengan musik alam yang sangat indah. Gemuruh ombak di laut, deru angin di gunung, dan rintik hujan merupakan musik alam yang sangat indah. Dan sudah terbukti, bagaimana pengaruh musik alam itu bagi kehidupan manusia.

    Wulaningrum Wibisono, S.Psi. mengatakan, "Jikalau Anda merasakan hari ini begitu berat, coba periksa lagi hidup Anda pada hari ini. Jangan-jangan Anda belum mendengarkan musik dan bernyanyi."

    Sumber:
  • Staf IQEQ, http://www.balita-anda.indoglobal.com/pengaruhmusik.html, Balita Anda.
  • Pujian yang Kreatif

    Pujian yang Kreatif


    Aktivitas kali ini menyajikan contoh-contoh kreasi dalam memimpin pujian di Sekolah Minggu. Dengan contoh-contoh tersebut diharapkan guru SM dapat membuat suasana SM menjadi lebih menarik.

    1. Saputangan Berjalan

      Sediakan sebuah saputangan. Berikan saputangan ini kepada seorang anak. Mintalah semua anak menyanyikan sebuah lagu pujian (sebaiknya lagu yang bertema keakraban.) Sementara itu, mintalah anak yang memegang saputangan untuk berdiri dan menyerahkan saputangan itu kepada salah seorang anak di kelas itu (tetapi tidak boleh diserahkan kepada anak yang persis di sebelahnya.) Anak yang hendak diberi saputangan oleh anak tersebut harus menyambutnya dengan berdiri. Kemudian anak yang semula membawa saputangan, setelah menyerahkan saputangan tersebut ia duduk di tempat anak yang diberikannya saputangan. Demikian seterusnya, yang menerima saputangan menyerahkan pada anak lainnya dan duduk di kursi anak tersebut. Dengan demikian, terjadi perpindahan tempat duduk, yang akan membuat suasana persekutuan antaranak menjadi lebih akrab. Jika suatu saat saputangan dipegang oleh guru, maka semua anak harus berdiri dan bernyanyi bersama-sama.

      Dapat divariasi dengan aturan: saputangan harus diserahkan kepada anak lainnya, dengan syarat harus berbeda jenis kelaminnya (anak putra memberikan kepada yang putri, dan anak putri memberikannya kepada anak putra.)

      Variasi lain adalah dengan menambah jumlah saputangan yang dipakai acara ini, misalnya dengan menyediakan 2 saputangan atau lebih, dengan aturan permainan yang sama, sehingga lebih banyk anak akan terlibat aktif. Kreasi ini membuat suasana di kelas terasa sangat akrab dan anak belajar saling menerima dan mengasihi.

    2. Yesus Amat Cinta pada Kamu

      Lagu: Oh, giranglah (2x) Yesus amat cinta pada saya
      Oh, giranglah

      Pada awal pujian anak-anak diajak menyanyikan lagu yang sangat populer ini, dengan mengganti kata "saya" dengan kata "kamu", sambil anak-anak saling menunjuk, bahwa Yesus amat cinta kepada kamu juga.

      Kemudian anak-anak dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok (jumlah anggotanya bebas.) Salah satu kelompok diminta mulai menyanyikan lagu ini sambil berdiri, namun pada saat kalimat: "Yesus amat cinta pada kamu", kelompok tersebut secara serempak harus menunjuk kepada satu kelompok lainnya. Dan kelompok yang ditunjuk harus segera berdiri dan meneruskan lagu tersebut, sementara kelompok sebelumnya duduk kembali. Demikian seterusnya, setiap kelompok yang menyanyi menunjuk kelompok lainnya sebagai tanda kelompok lain tersebut harus menunjukkan pujian ini. Setiap kelompok dipimpin oleh seseorang pemimpin yang akan memberikan komando kelompok mana yang akan ditunjuk mereka.

      Simulasi ini akan semakin menarik, bila kecepatan lagunya dibuat semakin lama semakin cepat, dengan demikian kekompakan dan kesigapan anak diuji. Regu yang terlambat menyanyi atau yang tidak kompak akan dicatat sebagai regu yang "gagal", regu yang paling banyak gagal akan mendapatkan tugas khusus (misalnya, diminta menyanyi atau tugas lainnya.) Memang Yesus amat cinta pada setiap anak, karena itu bersukacitalah. Tekankan makna ini kepada anak-anak.

    Sumber:
  • Teknik Kreatif dan Terpadu dalam Mengajar Sekolah Minggu, Paulus Lie, , halaman 1 - 3, Yayasan Andi, Yogyakarta, 1999.

  • Memimpin Menyanyi

    Memimpin Menyanyi


    Nyanyian dapat menggerakkan hati orang dan dapat menimbulkan perasaan puji syukur yang aktif dalam hati manusia, termasuk anak- anak SM Anda. Kerohanian anak dapat bertumbuh salah satunya karena lagu-lagu rohani yang mereka dengarkan, pujikan, dan pelajari setiap hari atau setiap minggu di Sekolah Minggu.

    Dengan pujian rohani, hati anak-anak dapat dipenuhi dengan perasaan kasih pada Tuhan dan dengan mudah mereka dapat masuk dalam suasana rohani. Jika seseorang telah suka menyanyi, maka nyanyian itu dapat menjadi satu bagian yang tidak boleh kurang dalam kehidupannya. Nyanyian juga telah menjadi bagian yang penting di dalam kebaktian.

    Sikap yang harus ada pada waktu anak-anak Sekolah Minggu menyanyi:

    1. Harus teratur, tidak boleh terlalu cepat atau terlalu lambat semaunya sendiri.
    2. Semua harus ikut menyanyi.
    3. Harus tertib, tidak boleh berteriak-teriak.
    4. Harus khidmat.
    5. Harus lincah dengan hati yang penuh sukacita.
    6. Jangan terlalu banyak berkata-kata atau komentar.
    7. Harus ada yang memimpin.

    Yang memimpin nyanyian atau paduan suara harus memperhatikan:

    1. Jangan mengajarkan nyanyian yang pemimpin sendiri tidak bisa.
    2. Harus bersehati dan bekerjasama dengan pemain musik.
    3. Tempo lagu harus tepat, jika tidak, akan kacau.
    4. Harus bersemangat dan lincah, tetapi dengan cara sederhana.
    5. Boleh dengan cara menyanyi bergiliran antara anak-anak perempuan dan anak laki-laki; kiri-kanan; atau depan-belakang.
    6. Boleh menyanyikan dengan suara keras, lambat cepat perlahan; di ubah-ubah setiap waktu menurut pemimpin supaya mereka penuh perhatian terhadap nyanyian.
    7. Boleh mengubah kata-kata dalam nyanyian tetapi harus sesuai dengan kebenaran Alkitab dan sesuai dengan notnya.
    8. Jangan terlalu lama menyanyikan not, karena perhatian lebih penting.
    9. Jangan terlalu banyak mengajar nyanyian baru, harus mengulang nyanyian-nyanyian lama.
    10. Nyanyian yang diajarkan harus dihafalkan.
    11. Waktu mengajar nyanyian jangan terlalu lama menerangkan. Waktu hendak mengulangi nyanyian sebaiknya pada waktu nyanyian- nyanyian belum berakhir; segera beri aba-aba, misalnya, nyanyi sekali lagi, atau yang kanan menyanyikan dsb., supaya tidak menghilangkan semangat mereka.
    12. Pemain musik jangan terlalu banyak bervariasi sebab akan menghilangkan suasana kebaktian, juga menyebabkan anak-anak memperhatikan musik dan tidak memperhatikan maksud nyanyian.
    13. Tiap pengajar harus dapat turut menyanyi.
    14. Suara pemimpin nyanyian harus cukup keras.
    15. Bila anak-anak tidak mau menyanyi, pemimpin tidak boleh marah, melainkan harus mencari cara supaya semua anak-anak dapat ikut menyanyi.

    Memilih nyanyian:

    1. Jangan terlalu panjang.
    2. Perkataan jangan yang sukar dimengerti.
    3. Isi nyanyian harus sesuai dengan Alkitab.
    4. Nyanyian harus sesuai dengan pelajaran.
    5. Kelas remaja harus memilih nyanyian yang dipakai dalam kebaktian umum supaya waktu mereka masuk kebaktian umum, tidak asing lagi.
    6. Tinggi rendah nyanyian harus sesuai dengan nada suara anak-anak. Jangan melampaui nada suara anak-anak. Biasanya nada suara anak- anak dari kunci A-C.
    7. Bila dalam suatu nyanyian tidak dituliskan nada suaranya, maka nyanyian nada yang tertinggi 6=F; 7=E; 1=D; 2=C; dsb.
    Sumber:
  • Pusat Elektronik Pelayanan Anak Kristen (PEPAK), Pdt. Dr. Stephen Tong, http://www.sabda.org/pepak/pustaka/050835/.
  • Musik dan Pujian untuk Tuhan

    Musik dan Pujian untuk Tuhan


    Musik sering digunakan bersama anak-anak sebagai sesuatu yang hanya dilakukan untuk menunggu anak-anak yang datang terlambat atau sebagai proses pergantian dari pelajaran utama yang sedang diberikan.

    Penggunaan musik yang terbatas itu menghilangkan dampak kuat musik bagi anak-anak dalam memahami, mengingat, dan menerapkan kebenaran Alkitab. Jika musik selalu menjadi komponen penting dalam sesi penyembahan, berpartisipasi dalam musik juga menjadi pengalaman yang berharga bagi anak-anak di SM, terutama dalam pertumbuhan rohani mereka. Kegiatan yang dilakukan bisa dengan beberapa cara berikut ini:

    1. Anak-anak SM dapat belajar lagu baru untuk diyanyikan bagi teman lainnya dalam kelas mereka. Setelah itu mereka dapat mensharingkan apa yang telah mereka pelajari tentang kebenaran Alkitab melalui kata-kata dalam lagu tersebut.

    2. Anak-anak bisa membandingkan kata-kata yang terdapat dalam sebuah lagu-lagu dengan kata-kata yang terdapat dalam ayat-ayat Alkitab untuk membantu mereka dalam memahami dan mengingat kata-kata dalam Alkitab.

    3. Anak-anak bisa juga menggabungkan seni dan musik dengan membuat ilustrasi dari kata-kata dan arti dalam sebuah lagu.

    4. Anak-anak bisa menghafal lagunya dengan menyanyikannya berkali-kali sampai minggu depan untuk membantu mempelajari sebuah lagu yang sedang mereka pelajari, atau yang telah mereka ilustrasikan, atau yang telah diiringi dengan musik.

    Keuntungan Kegiatan Bermusik dan Memuji Tuhan

    Kegiatan Belajar Alkitab yang menggunakan musik dan pujian adalah suatu cara yang dapat dinikmati oleh anak-anak supaya dapat terlibat aktif dalam mempelajari dan mengingat kebenaran Alkitab. Musik yang dipilih dengan selektif untuk tujuan tertentu dapat membantu anak dalam:

    • mempelajari kebenaran-kebenaran Alkitab dan doktrin;
    • menghafal ayat-ayat Alkitab;
    • mengingat menunjukkan ajaran Kristen;
    • merasakan suasana tenang dan penyembahan;
    • beralih secara perlahan-lahan dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya;
    • menikmati waktu santai dan kegiatan.

    Tips untuk Memimpin Kegiatan Belajar Alkitab Melalui Musik

    1. Tanyakan enam pertanyaan tentang lagu-lagu yang akan Anda gunakan berikut ini.
      1. Apakah lagu tersebut memiliki arti yang jelas bagi anak- anak?
      2. Apakah lagu tersebut mudah dinyanyikan?
      3. Apakah lagu tersebut ada hubungannya dengan pelajaran yang disampaikan?
      4. Apakah kata-kata dalam lagu tersebut tepat secara Alkitab dan doktrin?
      5. Apakah lagu tersebut membangun sikap yang positif?
      6. Apakah anak-anak akan menikmati lagu tersebut?
    2. Undanglah seorang anggota paduan suara di gereja Anda atau orangtua yang memiliki ketrampilan dalam bermusik untuk memimpin kegiatan selama satu atau lebih pelajaran.
    3. Gunakan kaset musik yang telah disediakan dalam kurikulum Anda untuk membantu Anda mengenal lagu tersebut.
    4. Tanyakan pada murid-murid adakah di antara mereka yang memiliki keyboard elektrik yang dapat mereka bawa untuk mengiringi lagu.

    (t/Ra)

    Sumber:
  • Sunday School Smart Pages, Wes & Sheryl Haystead, , Artikel Teaching Bible Truths to Young Children, halaman 127, Gospel Light, Ventura, 1992.

  • Musik dan Pujian dalam Program Gereja

    Musik dan Pujian dalam Program Gereja


    Kehidupan rohani anak dalam hal memuji Tuhan melalui musik dan nyanyian tidak dapat diusahakan sambil lalu saja. Musik dan pujian tersebut seharusnya diintegrasikan dengan setiap kegiatan-kegiatan rohani anak.

    Sekolah Minggu

    Tujuan utama SM adalah mengajarkan Firman Tuhan dan membantu setiap anak untuk mengenal Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dan untuk menjalin hubungan yang bertumbuh dengan-Nya. Suatu program musik yang terencana, di bawah kepemimpinan yang antusias dan kompeten dapat memberikan sumbangan yang besar dalam mencapai tujuan tersebut. Setiap divisi dalam SM harus menyediakan waktu setiap minggunya untuk kegiatan musik atau mengintegrasikan musik ke dalam kegiatan-kegiatan sekolah lainnya. Oleh karena itu, seseorang harus bertanggung jawab untuk merencanakannya, dan yang lain bertugas memimpin dan mendampingi kegiatan tersebut, khususnya ketika beberapa divisi berbeda dari SM itu mengadakan kegiatan yang sama pada waktu yang sama pula. Petugas rutin di tiap divisi, anggota paduan suara remaja atau pemuda, atau sukarelawan lain yang bertalenta bisa menolong untuk mengisi posisi ini.

    Gereja yang lebih kecil mungkin kesulitan dalam mengurus program musik dan pujian rohani ini secara konsisten di semua divisi. Meskipun demikian, gereja yang lebih kecil ini dapat mengatasi masalah ini dengan menggabungkan dua divisi atau lebih dengan waktu yang singkat setiap minggunya atau dengan membuat jadwal kegiatan musik yang berbeda di setiap devisi. Dengan demikian, beberapa divisi dapat dilayani oleh pemimpin musik yang sama. Jika perlu, kegiatan dapat juga dilakukan dua minggu sekali atau sebulan sekali, pada hari itu berikan perpanjangan waktu untuk musik dan memuji Tuhan.

    Gereja Anak-anak

    Tujuan gereja anak-anak adalah melatih anak-anak untuk menyembah, menyediakan kesempatan untuk melakukan penyembahan pada tingkat anak-anak, dan untuk menyiapkan anak-anak mengikuti pelayanan di gereja di waktu yang akan datang.

    Bentuk lain dari gereja anak adalah kesempatan untuk berpartisipasi dalam peran kepemimpinan, misalnya membaca Alkitab, memimpin berdoa, dan menerima tamu. Mereka juga perlu diajari untuk memimpin pujian, mengadakan sajian musik spesial, atau mungkin menyanyi dalam paduan suara atau ensembel kecil. Anak-anak yang belajar alat musik harus diberi kesempatan untuk mempraktikkannya di gereja anak, mungkin untuk pembukaan.

    Paduan Suara Anak-anak

    Kegiatan paduan suara di beberapa gereja perlu disusun sedemikian rupa sehingga memenuhi kebutuhan anak-anak. Beberapa gereja yang lebih besar dapat berhasil mempertahankan paduan suara untuk berbagai usia, termasuk anak-anak. Bagi gereja-gereja lainnya, ukuran tidak adanya pemimpin, atau kegiatan lain yang terlalu banyak merupakan alasan tidak dapat dijalankannya kegiatan paduan suara ini. Mungkin, rencana yang paling umum digunakan terdiri dari dua atau tiga paduan suara (ditambah paduan suara remaja dan sekolah menengah).

    Latihan paduan suara harus direncanakan dan perlu dikoordinasikan dengan kegiatan gereja untuk menghindari konflik yang melibatkan kegiatan lain atau masalah transportasi. Jika beberapa kegiatan anak terjadwal, bila memungkinkan, anak-anak bisa kumpul pada hari atau sore yang sama. Beberapa gereja berpendapat bahwa latihan paduan suara anak dan yunior yang paling tepat dilakukan pada hari ketika anak-anak tidak sibuk dengan kegiatan sekolah. Di beberapa gereja, paduan suara yunior dilakukan pada jam gereja anak atau pada Minggu sore sebelum kebaktian di gereja.

    Di bawah pemimpin yang tepat, paduan suara anak-anak dapat menjadi kelompok nyanyian yang efektif yang dapat ditampilkan dalam kebaktian di gereja dan dalam program musikal khusus. Kontribusi penting lainnya adalah efeknya dalam kehidupan mereka yang berpartisipasi di dalamnya. Berikut ini adalah fungsi dasar pelayanan paduan suara anak-anak dengan nilai-nilai tertentu bagi anak-anak itu sendiri.

    1. Untuk menginjili
      Paduan suara menarik anak-anak yang belum mengenal Kristus yang tertarik pada musik. Partisipasi ini tidak hanya dapat menjangkau anak-anak, namun juga seluruh keluarga yang belum mengenal Kristus.

    2. Untuk mengajarkan penyembahan
      Karena keterlibatan mereka dalam pelayanan di gereja, anak-anak perlu belajar memimpin diri mereka sendiri dalam penyembahan, ambil bagian dalam pujian, doa, duduk dan berdiri dengan sopan. Selain itu, mereka juga dapat menyadari nilai pengalaman penyembahan yang sesungguhnya.

    3. Untuk membangun rohani yang bertumbuh
      Suatu daftar lagu paduan suara yang dipilih dengan cermat meliputi hymne dan lagu-lagu gereja yang didasarkan pada kebenaran Firman Tuhan. Pengulangan yang terus-menerus dalam latihan dan semangat pemimpin untuk menginterpretasikan arti dari teks lagu membuka pemahaman dan pengetahuan baru dimana anak-anak bisa bertumbuh.

    4. Memberikan kesempatan untuk pelayanan Kristen
      Melalui partisipasi dalam pelayanan di gereja, anak-anak belajar untuk menemukan cara Tuhan menggunakan orang-orang untuk mengabarkan Firman-Nya kepada orang lain. Mereka segera akan menyadari bahwa mereka adalah pelayan penginjilan ketika mereka bernyanyi. Seringkali ini membantu mereka membangun suatu sikap positif terhadap pelayanan Kristen.

    MUSIK DAN PUJIAN DALAM KEGIATAN LAINNYA

    Kesempatan yang tidak terbatas tersedia untuk menggunakan minat anak-anak pada musik dan kemampuan di luar pelayanan rutin dan kegiatan divisi. Pemimpin harus mencari cara untuk menemukan minat dan kemudian menyediakan cara dimana anak-anak dapat dirangsang dan didorong. Ini dapat dilakukan dengan mengadakan program talenta serta konser musik dan pujian dimana anak-anak didorong untuk tampil atau dengan menghadiahkan beasiswa atau dukungan keuangan untuk kamp musik atau sekolah. Menghadiri konser pujian anak-anak lokal atau suatu program paduan suara dengan mengunjungi beberapa kelompok paduan suara anak-anak mungkin bisa membantu. Kegiatan ini bisa menumbuhkan minat yang baru dalam kegiatan musikal dan merangsang minat untuk mengembangkan talenta yang Tuhan berikan.

    MEMILIH MUSIK UNTUK ANAK-ANAK

    Pujian bagi anak-anak tidak harus selalu tepat secara teologis. Salah satu buku lagu anak-anak yang pertama kali diterbitkan di Amerika Serikat adalah "Divine and Moral Songs", yang diterbitkan oleh Isaac Watts pada tahun 1720. Meskipun dalam buku ini terdapat beberapa hymne yang bagus, dalam buku ini juga terdapat beberapa lagu yang mengajarkan moral, yang berhubungan dengan perbuatan- perbuatan yang tidak terpuji yang harus dihindari oleh seorang anak jika ia ingin menyenangkan Tuhan. Penulis berikutnya pada abad 18 dan 19 tidak melakukan peningkatan yang besar pada kualitas isinya. Beberapa penulis cenderung "merendahkan" anak-anak dengan menganggap mereka sebagai "domba kecil". Sedangkan yang lainnya "mempermanis" pesan penginjilan sehingga pesan tersebut menjadi tidak jelas. Sayangnya, masalah tersebut masih tetap ada sampai sekarang.

    Dalam mengevaluasi kata-kata dalam sebuah lagu untuk anak-anak, pertanyaan-pertanyan berikut ini bisa digunakan:

    1. Apakah kata-katanya sesuai dengan Alkitab?
    2. Apakah kata-katanya menekankan kebenaran yang penting?
    3. Apakah kata-katanya menarik dan jelas?
    4. Apakah kata-kata tersebut sesuai dengan tingkat usia mereka?
    5. Apakah kata-kata tersebut mendorong semangat untuk hormat?

    Kriteria untuk mengevaluasi musik mungkin termasuk berikut ini:

    1. Semakin muda usia anak, semakin pendek kalimat-kalimatnya.
    2. Pola nadanya harus disusun dari kira-kira D sampai C di atas C sedang, dengan sebagian besar nada D sampai A.
    3. Liriknya harus sederhana, dapat diduga, dan konsisten dengan gaya katanya.
    4. Melodi dan harmoninya harus memiliki ciri yang berbeda sehingga lagu tersebut mudah untuk dipelajari dan diingat.
    5. Semua tersebut diatas harus memberikan interpretasi yang terbaik dari teks tersebut.
    (t/Ra) Sumber:
    Childhood Education in the Church, Robert E. Clark, Joanne Brubaker, & Roy B. Zuck, , Artikel Music in the Church Program, halaman 442 - 445, Moody Press, Chicago, 1986.

    Kreasi Doa yang Menarik

    Kreasi Doa yang Menarik


    Bagian yang paling menakutkan anak, yaitu bila ia diminta untuk maju berdoa di depan kelas. Acara yang paling membosankan anak adalah jika doa terlalu panjang. Sekarang, bagaimanakah mengubah persepsi doa yang kurang menarik ini mejadi bagian yang diminati anak?

    1. Guru Membisikkan Doa pada Satu Anak
      Mintalah satu anak untuk maju ke depan kelas. Ia akan mengatakan dengan suara keras apa yang dibisikkan guru. Kemudian, teman yang lain akan menirukan apa yang diucapkannya. Jika satu anak sudah mahir, ia tidak perlu lagi dibisiki. Mintalah dia untuk langsung mendikte teman-temannya. Usaha ini sebagai batu loncatan agar anak-anak tidak takut untuk maju dan berdoa. Mereka akan merasa "aman" jika dipanggil untuk berdoa, sebab merasa yakin bahwa guru mereka akan menolong mereka berdoa.

    2. Dengan Teks Lagu
      Dalam sikap doa: Satu anak membacakan setiap baris kalimat suatu lagu, dan anak-anak lain menirukannya. Demikian seterusnya, hingga lagu tersebut selesai diucapkan dan ditutup dengan kata "Amin". Pilihlah lagu yang bertema doa, seperti: "Kusiapkan Hatiku Tuhan", "Bapa Surgawi", "Bapa Terima Kasih", dll.. Teknik ini akan memudahkan dan sangat menolong anak yang sedang belajar berdoa. Jika ia sudah hafal suatu teks lagu, ia boleh langsung memimpin doa tanpa teks.

    3. Sikap Doa
      Variasikan sikap berdoa, misal: dengan berlutut, dengan saling berpegangan tangan, atau dengan kedua tangan diangkat terbuka. Dengan pengajaran ini, anak diajar bahwa doa yang sungguh-sungguh sangat disukai Tuhan.

    4. Doa Berantai
      Anak diminta mendoakan teman yang duduk di sebelah kanannya. Satu anak cukup mendoakan satu anak lain di sebelah kanannya. Doa ini boleh dilakukan tanpa suara (dalam hati). Sesekali boleh dicoba dengan bersuara. Sebelum berdoa, anak yang akan didoakan harus ditanya dulu ia mau didoakan apa. Dengan demikian, anak diajar mendoakan orang lain. Rasa persaudaraan akan semakin kuat dengan saling mendoakan satu sama lain.

    5. Doa Satu Kalimat
      Mintalah beberapa anak pada saat doa mengucapkan satu kalimat pengucapan syukur dengan suara keras, misal:

      • "Tuhan Engkau sangat baik bagiku."
      • "Tuhan, terima kasih untuk makanan hari ini."
      • "Tuhan, terima kasih untuk cuaca yang cerah ini."
      • dan lain sebagainya.
      Pada percobaan pertama, anak bisa diberi panduan dengan secarik kertas yang berisi contoh-contoh kalimat pengucapan syukur. Sesudah mahir, contoh-contoh tersebut tidak perlu digunakan lagi.

      Metode ini melatih anak-anak untuk berani berdoa walau hanya satu kalimat. Jika sudah mulai terbiasa, anak-anak bebas mengucapkan satu kalimat atau lebih. Dalam praktik, cara ini paling efektif untuk mengajarkan berdoa kepada anak-anak. Cobalah setiap minggu, dan dalam enam bulan Anda akan terkejut karena semua anak SM Anda sekarang siap berdoa kapan saja. Tentu saja, agar tidak membosankan, setiap minggu harus punya tema doa yang berbeda.

    6. Doa Tematis
      Pilih satu topik tema yang selalu berbeda setiap minggunya, terutama saat doa syafaat. Jangan ingin mendoakan apa saja (banyak tema), sebab doa tersebut akan menjadi sangat panjang. Banyak tema bisa dipakai, misal:

      • Keluarga: ayah, ibu, kakek, nenek, kakak, adik, tante, dll.
      • Sekolah: guru, teman kelas, pelajaran
      • Teman-teman: di rumah, yang sakit, yang berduka
      • Pemerintah: Presiden, menteri, RT, RW
      • Korban suatu bencana
      • Gereja: pendeta, guru SM, penginjilan
      • Sekolah Minggu: cuaca, teman-teman yang absen
      • dll..


    7. Menghafal Teks Doa
      Dengan menghafalkan sebuah doa dan mengucapkan bersama-sama, juga akan melatih anak berdoa. Setelah mahir, doa ini diganti dengan teks doa yang lain. Anda bisa membuat sendiri teks doa makan, doa sebelum tidur, dan sebagainya.

      Namun harus dijelaskan bahwa mengucapkan hafalan saja bukanlah sebuah doa, melainkan harus diucapkan dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan. Pada saat berdoa janganlah monolog (guru berdoa, anak pasif, atau diam saja.) Ingat, pada masa Sekolah Minggu anak sedang belajar dan dididik agar kelak di kemudian hari dapat mandiri. Jadi, kekurangan atau ketidakmampuan anak dalam berdoa justru merupakan tantangan bagi seorang guru untuk mengajarkannya.

    Sumber:
    Mengajar Sekolah Minggu yang Kreatif, Paulus Lie, , halaman 14 - 17, Yayasan Andi, Yogyakarta, 1997.

    Menanyakan Pertanyaan yang Akan Dijawab oleh Anak-Anak

    Menanyakan Pertanyaan yang Akan Dijawab oleh Anak-Anak


    Pertanyaan yang mendorong anak-anak untuk berpikir adalah bagian penting dari kegiatan belajar. Pertanyaan yang paling sederhana adalah meminta anak-anak untuk mengingat kembali informasi yang telah mereka terima sebelumnya. Pertanyaan seperti apakah yang bisa kita gunakan saat mengajar?

    1. Pertanyaan pengetahuan
      "Siapakah saudara laki-laki Musa?"

      Pertanyaan di atas tidak mendorong terjadinya diskusi karena sekali pertanyaan itu dijawab, hanya ada sedikit yang bisa dikatakan. Di sisi lain, menanyakan terlalu banyak pertanyaan pengetahuan dapat mematikan minat dan menurunkan partisipasi anak-anak yang memiliki sedikit pengetahuan tentang Alkitab atau yang tidak percaya diri dengan kemampuannya.

    2. Pertanyaan pemahaman
      Pertanyaan ini dirancang untuk menolong anak menginterpretasikan arti dari informasi yang diberikan. Pertanyaan seperti, "Menurut kalian, bagaimana perasaan Musa ketika Tuhan menyuruhnya memimpin orang-orang Israel?" atau "Menurut kalian, bagian mana yang paling sulit dalam memimpin orang Israel?" akan meminta anak untuk berpikir sebelum mereka memberikan tanggapan. Karena pertanyaan pemahaman tidak membutuhkan "jawaban yang benar", pertanyaan ini akan mendorong munculnya diskusi daripada membatasinya. Pada kenyataannya, setiap anak bisa memberikan jawaban yang berbeda terhadap pertanyaan yang diberikan, hal ini meningkatkan kesempatan untuk berdiskusi. Kesalahpahaman juga sering terjadi, guru memiliki kesempatan untuk meluruskan ide-ide yang keliru. Jangan pernah "membetulkan" ide-ide yang salah; berikan saja informasi yang benar.
    3. Pertanyaan penerapan
      Pertanyaan ini mendorong murid-murid untuk menggunakan informasi dalam suasana pribadi. Contohnya, "Kapan kalian memiliki perasaan yang sama dengan Musa ketika Tuhan memintanya untuk memimpin orang Israel?" Respons seorang murid menjadikan guru tahu bahwa pembelajaran sedang terjadi. Guru dapat menentukan apakah kebenaran Alkitab menyentuh kehidupan sehari-hari muridnya.

    Penggunaan ketiga jenis pertanyaan di atas akan menolong guru untuk menemukan informasi apa yang diketahui oleh anak (dan apa yang tidak diketahui) tentang suatu topik dan maksud tertentunya. Adakan percakapan dengan anak-anak di dalam kelas, jangan hanya monolog saja. Perhatikan diri Anda sendiri, apakah Anda sudah lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. (t/Ratri)

    Sumber:
  • Sunday School Smart Pages, Wes & Sheryl Haystead, , BabAsking Questions Kids Will Want to Answer, halaman 137, Gospel Light, Ventura, 1992.

  • Pertanyaan-Pertanyaan

    Pertanyaan-Pertanyaan


    MENGAPA MENGAJUKAN PERTANYAAN

    Untuk menghargai nilai pertanyaan yang baik, guru harus mengerti tujuannya. Pertanyaan dapat merangsang pikiran murid dan memberi manfaat untuk banyak tujuan.

    Untuk Membangkitkan Minat

    Guru harus mengadakan hubungan dengan murid agar minat belajar murid bisa dibangkitkan. Sebuah pertanyaan yang kata-katanya disusun secara hati-hati agar bisa menyentuh pikiran, bagaikan umpan seorang nelayan. Pertanyaan itu akan memancing perhatian dan mendapatkan tanggapan yang cepat serta merangsang pemikiran murid dan memusatkan perhatiannya kepada pelajaran.

    Untuk Mengarahkan Pikiran

    Setiap pertanyaan hendaknya menuju kepada sasaran guru. Setelah digairahkan oleh pertanyaan yang mempunyai kesatuan dan tujuan, para pelajar dapat diarahkan dari satu bidang pemikiran kepada bidang lainnya.

    Untuk Mempercepat Partisipasi

    Apabila pikiran murid sedang menyimpang, pikiran tersebut bisa dikembalikan oleh suatu pertanyaan. Dalam suasana yang membosankan, pemikiran mereka akan menjadi lesu. Serangkaian pertanyaan yang mengena akan memberikan semangat baru kepada murid-murid. Pertanyaan yang hidup dan bersemangat bisa menjamin kemajuan yang memuaskan.

    Untuk Menanamkan Kebenaran

    Murid-murid bisa membicarakan kebenaran Alkitab tanpa menghubungkannya dengan diri mereka. Sebuah pertanyaan yang baik akan memimpin mereka untuk menerapkan kebenaran itu pada hidup mereka sendiri. Kristus melukiskan hal ini ketika Dia bertanya kepada para murid-Nya, "Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?" Ketika mereka menjawab, dengan cepat Dia menerapkan pikiran mereka dengan pertanyaan yang bersifat pribadi, "Tetapi, apakah katamu, siapakah Aku ini?" (Matius 16:13-15).

    MENYIAPKAN PERTANYAAN

    Guru-guru yang baik tentunya akan menyiapkan pertanyaan mereka terlebih dahulu. Beberapa macam pertanyaan harus dipelajari dan dipergunakan.

    Pertanyaan yang Mengadakan Hubungan

    Perhatian dan minat bisa dibangkitkan jika guru memulai pelajaran dengan sebuah pertanyaan tepat, yang berhubungan dengan pelajaran yang disampaikan. Ungkapan Yesus yang sering kali dikemukakan dan paling terkenal ialah, "Apakah pendapatmu?" Percakapan dimulai dengan pertanyaan seperti, "Apakah kamu tidak mau pergi juga?", "Dengan apa hendaknya kita membandingkan kerajaan Allah itu?", dan "Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?"

    Pertanyaan Retorik

    Pendeta dan guru sering kali mengajukan pertanyaan tanpa mengharapkan jawaban. Pertanyaan demikian itu ditanyakan untuk efeknya saja dan bukan untuk memperoleh jawaban. Pertanyaan demikian menyebabkan orang heran dan memberi tantangan yang penting; juga mendorong aktivitas mental.

    Pelajarilah pertanyaan-pertanyaan dalam Khotbah di Bukit di Matius 6 dan Matius 7. "Siapakah di antara kamu yang karena kekhawatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?", "Mengapa kamu khawatir akan pakaian?", "Mengapa engkau melihat selumbar di mata saudaramu?", atau "Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?" Pertanyaan seperti itu tidak meminta jawaban, tetapi meminta tindakan.

    Pertanyaan Berdasarkan Fakta

    Pertanyaan termudah adalah pertanyaan yang dapat dijawab berdasar keterangan yang telah diberikan sebelumnya. Jawabannya ditentukan oleh pikiran akan pelajaran yang telah ditanamkan sebelumnya. Pekerjaan guru itu belum lengkap kalau belum diuji. Pertanyaan berdasarkan fakta akan menunjukkan berapa banyak dari pengajaran yang mampu mencapai sasarannya. Seorang guru yang baik tentunya ingin agar murid-muridnya mempunyai banyak kesempatan untuk mengungkapkan kembali pelajaran yang telah dipelajarinya.

    Pertanyaan yang Merangsang Pikiran

    Pertanyaan bukan sekadar menguji pengetahuan murid saja. Pertanyaan itu juga harus menolong murid untuk menyusun dan menerapkan pengetahuannya. Pertanyaan harus bisa mendorong murid untuk belajar lebih banyak dan berpikir sendiri.

    Untuk mendorong anak didiknya, seorang guru yang bijaksana akan mempergunakan pertanyaan bukan saja untuk mengarahkan pikiran, melainkan juga untuk merangsang pikiran. Dia akan menyiapkan pertanyaan-pertanyaan perangsang pikiran yang meliputi tujuan, pendapat, dan penerapan.

    CARA MENANYAKAN PERTANYAAN

    Pemakaian pertanyaan yang berhasil sangat bergantung kepada cara mengajukannya. Pengamatan prinsip-prinsip berikut ini akan memperkaya guru sekaligus menjadikan pelajarannya lebih efektif, serta mendorong anggota kelasnya.

    1. Jangan membaca pertanyaan.
    2. Hindari pertanyaan yang menyingkapkan jawabannya.
    3. Hindari pertanyaan yang bisa diterka dengan jawaban ya atau tidak.
    4. Hindari pertanyaan yang panjang atau pertanyaan ganda.
    5. Mintalah jawaban yang spesifik.
    6. Jangan mengulangi pertanyaan dan jawaban.
    7. Sebutkan pertanyaannya dulu sebelum menunjuk siapa yang harus menjawab.
    8. Bagikan pertanyaan dengan adil.
    9. Doronglah murid-murid untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
    10. Jawablah pertanyaan dengan pertanyaan lain.

    Biasanya, guru mengajukan pertanyaan untuk mengukur luasnya pengetahuan murid. Sebaliknya, murid mengajukan pertanyaan karena mereka menghadapi kesulitan dan menginginkan penjelasan. Prosedur mengajar yang efektif ialah menyajikan sebuah masalah dan memberi tantangan kepada kelas dalam bentuk pertanyaan yang meminta jawaban. Tindakan ini lebih baik daripada sekadar menyajikan pemecahannya dan kemudian memeriksa apakah murid-murid memahaminya. Seorang guru yang bijaksana senantiasa mendorong semangat bertanya. Dia tidak memberitahukan sesuatu yang dapat ditemukan sendiri oleh murid- muridnya. Untuk menolong mereka melakukan hal ini, ia akan mendorong mereka agar mengajukan pertanyaan dan sering menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lain.

    Sumber:
  • Teknik Mengajar, Clarence H. Benson, , halaman 70 — 74, Gandum Mas, Malang, 1980.
  •