Thursday, March 29, 2007

Pengertian dan Dasar-dasar Kurikulum

Pengertian dan Dasar-dasar Kurikulum

"Kita tidak perlu kurikulum. Buku Pedoman mengajar kita adalah Alkitab, jadi Alkitab sajalah yang kita ajarkan." Kita kadang mendengar komentar seperti itu dari gereja atau guru-guru Sekolah Minggu (GSM) dan sekalipun komentar tsb. tidak diucapkan secara langsung, ada sikap-sikap seperti ini yang muncul ketika membicarakan tentang kurikulum. Mengapa? Hal ini mungkin terjadi karena gereja dan GSM salah mengerti tentang "kurikulum". Oleh karena itu marilah kita mulai pembahasan kita tentang kurikulum dengan terlebih dahulu mengerti apa sebenarnya kurikulum dan apa yang menjadi dasar-dasar sebuah kurikulum yang baik.

1. Apakah KURIKULUM?

Secara tradisional, "kurikulum" biasa dimengerti sebagai serangkaian program yang berisi rencana-rencana pelajaran yang telah disusun sedemikian rupa yang dapat dipakai secara langsung oleh guru untuk mengajar. Guru beranggapan bahwa semua yang telah disusun dalam rencana-rencana pelajaran itu harus diikuti setiap detailnya dengan setepat mungkin. Akibat dari pengertian ini guru menjadi frustrasi karena ketika dipraktekkan, semua hal dalam rencana pelajaran itu tidak dapat diikuti semuanya dengan tepat. Tapi guru merasa rencana pelajaran itulah satu-satunya pedoman utama yang harus diikuti karena pelajaran yang ada di kurikulum itu dibuat oleh para ahli, sehingga pasti sudah baik dan mereka tidak perlu mengubahnya lagi. Guru akhirnya makin lama makin terpancang dengan rencana pelajaran yang telah disusun tsb. dan tidak dapat mengembangkan idenya sendiri sehingga bahan dalam kurikulum itu bukannya menjadi penolong bagi GSM tapi malah menjadi penghalang bagi guru untuk berkembang.

Dalam arti kontemporer "kurikulum" diartikan secara lebih luas, karena kurikulum tidak lagi menekankan pada daftar isi materi rencana pelajaran yang memiliki topik-topik yang telah disusun, tapi lebih menekankan kepada pengalaman-pengalaman proses belajar mengajar yang dapat diberikan kepada para murid dalam konteks dimana murid-murid berada.

Dalam konteks pelayanan anak Kristen "kurikulum" dimengerti sebagai program pengajaran lengkap untuk anak-anak yang di dalamnya mencakup daftar subyek/topik pengajaran dalam Alkitab yang telah diintegrasikan dengan pengalaman-pengalaman untuk disesuaikan dengan konteks gereja setempat yang berdasarkan prinsip-prinsip Alkitab dan yang berpusat pada Kristus serta dipimpin oleh Roh Kudus untuk tujuan pertumbuhan rohani murid (anak didik).
Dari pengertian di atas, jelas bahwa kurikulum bukanlah program pengajaran yang disusun terpisah dari Alkitab. Namun sebaliknya program pelajaran yang ada di kurikulum adalah rencana pelajaran yang disusun berdasarkan topik-topik yang menunjang pertumbuhan rohani sesuai yang diajarkan Alkitab.

2. Dasar-dasar KURIKULUM

Sebuah kurikulum yang efektif harus dibangun berdasarkan prinsip- prinsip dan stuktur sbb.:

a. Dasar Alkitab

Alkitab adalah sumber yang menyediakan semua subyek/topik/ prinsip iman Kristen yang penting untuk diajarkan kepada anak- anak didik. Oleh karena itu inti kurikulum berpusat pada Alkitab, yang adalah Firman yang diinspirasikan oleh Allah sendiri. Selain itu Alkitab juga menjadi tolok ukur untuk menghakimi semua kebenaran atau pengalaman yang diintegrasikan di dalam materi kurikulum.

b. Dasar Berita Kristologis

Walaupun Alkitab telah menyediakan seluruh isi kurikulum, perlu diingat bahwa berita kebenarannya adalah berpusat pada Pribadi Yesus Kristus. Oleh karena itu kurikulum harus memberitakan dengan jelas keselamatan yang berpusatkan pada pribadi Yesus Kristus.

c. Dasar Kebutuhan Anak

Memang Alkitab "bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran" (baca: 2Timotius 3:16), namun tidak semua kebenaran tsb. relevan dengan kebutuhan setiap kelompok umur anak. Oleh karena itu kurikulum yang baik harus disusun berdasarkan kebutuhan kelompok umur sehingga sesuai dengan perkembangannya.

d. Dasar Pendidikan yang Tepat

Kurikulum yang efektif harus sesuai dengan pengetahuan kita tentang bagaimana cara anak-anak didik belajar. Dengan mengkombinasikan pengetahuan tsb. tujuan mengajarkan kebenaran akan lebih mudah tercapai karena kita tahu apa yang memotivasi anak belajar dan bagaimana cara mereka belajar paling baik.

e. Dasar Ketepatan Aplikasi

Mengajarkan pengetahuan kebenaran Alkitab saja masih kurang, karena tujuan utama Allah memberikan Firman-Nya adalah untuk mengubah hidup manusia. Oleh karena itu kurikulum juga harus dapat mendorong dan menolong anak untuk dapat meresponi kebenaran yang telah diberikan sehingga mereka menjadi "pelaku Firman dan bukan hanya pendengar saja" (baca: Yakobus 1:22).
Sumber:
Childhood Education in the Church, Robert E. Clark, Joanne Brubaker, & Roy B. Zuck, , halaman 261 - 263, Moody Press, Chicago, 1986.
Christian Education: Foundations for the Future, Robert E. Clark, , halaman 495 - 498, Moody Press, Chicago.
Kekuatan Sebuah Kurikulum
Seorang ahli Pendidikan Agama Kristen pernah berkata: "Bahan kurikulum yang sempurna belum terbit." Artinya, tidak pernah ada kurikulum yang sempurna.

Kurikulum direncanakan untuk menolong, bukan untuk dijadikan wewenang tertinggi. Alkitablah yang harus dipandang sebagai wewenang tertinggi, bukan buku pedoman.

Meskipun demikian, perlu dipahami beberapa ciri khas penting yang merupakan kekuatan sebuah kurikulum:

Kurikulum harus - Pandangan yang benar mengenai Alkitab
Kurikulum harus - Meliputi sebanyak mungkin isi Alkitab
Kurikulum harus - Sedekat mungkin dengan pengertian/umur anak
Kurikulum harus - Memberi kesukaan belajar dgn variasi metode

1. Pandangan yang benar mengenai Alkitab

Pandangan benar mengenai Alkitab ialah, bahwa seluruh isi Alkitab baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru diinspirasikan oleh Roh Allah sendiri. "Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah." (2 Petrus 1:20-21)

Firman Tuhan dalam Alkitab diberi untuk mengajar dan membawa manusia pada keselamatan di dalam Tuhan Yesus, sebagaimana yang dijelaskan Rasul kepada Timotius: "Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran." (2 Timotius 3:15-16)

2. Meliputi sebanyak mungkin isi Alkitab

Alkitab adalah Firman Tuhan yang merupakan sumber dari segala sumber pengajaran Kristen. Memang ada bagian-bagian dari Firman Tuhan yang tidak dapat diceritakan begitu saja, sehingga khususnya untuk anak, terlebih dahulu diajarkan kitab-kitab sejarah, kitab-kitab Injil dan Kisah Para Rasul.

Sebagai contoh, kurikulum Suara Sekolah Minggu (SSM), disusun dari sekitar 500 cerita Alkitab. Dalam SSM ada beberapa perikop yang telah dipelajari di kelas Anak Kecil, dipelajari kembali pada kelas lain, tetapi dengan metode dan alat peraga yang berbeda. Misalnya, cerita tentang Penciptaan. Cerita diajarkan kepada Anak Kecil, Tengah dan Besar. Juga cerita yang berhubungan dengan Tahun Gereja, seperti Natal, Paskah, Kenaikan Tuhan Yesus ke surga dan Pentakosta, pasti disajikan tiap tahun dengan alat peraga dan penerapan yang berbeda.

Hal ini dapat dipertanggungjawabkan karena pengertian rohani seorang anak terus bertumbuh. Cerita tentang orang Samaria yang baik hati yang didengar pada umur empat tahun dapat dimengerti jauh lebih dalam bila didengar pada umur sebelas tahun. Kecuali tema-tema tertentu yang diajarkan beberapa kali, kebanyakan bahan Alkitab diajarkan pada satu tingkat umur saja, sehingga kurikulum sungguh-sungguh meliputi sebanyak dari isi Alkitab.

Dalam perencanaan kurikulum Suara Sekolah Minggu, anak-anak biasanya dikelompokkan sebagai berikut:

Anak Batita - anak masuk ketika berumur 3 tahun
Anak Kecil Tahun I anak masuk ketika berumur 4 tahunTahun II anak masuk ketika berumur 5 tahun
Anak TengahTahun I anak masuk ketika berumur 6 tahunTahun II anak masuk ketika berumur 7 tahunTahun III anak masuk ketika berumur 8 tahun
Anak Besar Tahun I anak masuk ketika berumur 9 tahunTahun II anak masuk ketika berumur 10 tahunTahun III anak masuk ketika berumur 11 tahun
Tunas RemajaTahun I anak masuk ketika berumur 12 tahunTahun II anak masuk ketika berumur 13 tahun

3. Sedekat mungkin dengan pengertian/umur anak

Meskipun Alkitab dikarang menurut pengertian orang dewasa, kebanyakan dari isinya dapat diajarkan kepada anak-anak sebagai "susu yang murni". Artinya, bahan dapat disederhanakan dan disajikan dalam bentuk cerita sesuai dengan pengertian dan tingkat perkembangan anak.
Bahan pelajaran Alkitab untuk Anak Batita dan Anak Kecil disusun dengan pengertian, bahwa mereka sama sekali belum sadar akan perkembangan sejarah. Mereka tidak tahu bahwa Abraham hidup sebelum Zakheus; bahwa peristiwa Perjanjian Lama mendahului peristiwa yang diceritakan dalam Perjanjian Baru. Karena itu, kurikulum untuk mereka sebaiknya diisi dengan cerita-cerita yang disajikan di bawah satu tema bulanan yang berpusat pada pengalaman mereka, seperti hidup dalam keluarga, penciptaan dan pemeliharaan Allah. Cerita-cerita di bawah tema itu dapat diambil dari Perjanjian Lama atau dari Perjanjian Baru, selama mendukung pokok yang dipilih sebagai tema.

Bahan pelajaran Alkitab untuk Anak Tengah disusun dengan pengertian bahwa perikop Alkitab untuk umur itu boleh lebih panjang dan lebih lengkap. Cerita Alkitab sewaktu-waktu masih berfokus kepada tema bulanan, umpamanya: "Memberi dengan sukacita". Empat cerita untuk tema itu dipilih dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Tetapi juga ada cerita seri, misalnya, enam cerita mengenai Daniel, empat cerita tentang Filipus. Pada umur ini anak-anak mulai mengerti hubungan dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya.

Bahan pelajaran untuk Anak Besar disusun dengan pertimbangan bahwa peristiwa Alkitab dilihat secara keseluruhan dari segi sejarah, baik sejarah dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Dalam kurikulum SSM, Anak Besar selama beberapa minggu menyelidiki tentang "Pembebasan bangsa Israel dari perbudakan Mesir dan perjalanan mereka di padang belantara". Mereka menyelidiki secara teratur mengenai masa hakim-hakim, raja-raja dan kerajaan Israel yang terpecah menjadi dua. Kemudian selama lima minggu mereka belajar tentang pembangunan tembok Yerusalem di bawah pimpinan Nehemia. Pada minggu-minggu selanjutnya mereka "berjalan" bersama rasul Paulus yang memberikan Injil sampai ke ujung bumi. Pada umur ini juga, anak mengagumi tokoh-tokoh dan meneladaninya, karena itu diajarkan tentang pahlawan-pahlawan iman.

Setelah selesai dengan kurikulum Anak Besar, bahan pelajaran selanjutnya disiapkan untuk Tunas Remaja. Anak-anak yang kini berada pada ambang masa remaja dapat diajar jauh lebih luas. Metode bercerita sudah jarang digunakan. Mereka menyelidiki Alkitab sendiri, dipimpin oleh guru yang berfungsi sebagai pendamping. Sewaktu-waktu mereka diajar di luar ruangan untuk menyelidiki pokok tertentu secara nyata.
Langkah-langkah seperti inilah yang dibutuhkan untuk mengadakan "kurikulum yang dekat dengan pengertian anak."

4. Memberi kesukaan belajar melalui variasi metode

Kurikulum yang memberi kesukaan belajar kepada anak, mengusulkan berbagai metode dalam menyampaikan dan menerapkan Firman Tuhan. Anak-anak dilibatkan dan diberi kesempatan untuk berpartisipasi secara aktif.
Variasi menggunakan alat peraga sebagai media mengajar juga diperhatikan, sehingga tidak hanya satu jenis alat peraga yang dipakai secara terus menerus (misalnya gambar atau gambar flanel).
Sumber:
Pedoman Pelayanan Anak 2, Ruth Lautfer & Anni Dyck, , halaman 202 - 205, Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia, Malang, 1993.
Bagaimana Mengevaluasi Kurikulum?
Berikut ini adalah beberapa contoh pertanyaan yang dapat dipakai untuk menilai apakah Kurikulum yang dipakai di Sekolah Minggu anda telah memenuhi syarat sebagai Kurikulum yang baik.

A. ISI: Materi apa yang diajarkan dalam kurikulum?

Apakah bahan-bahan pelajarannya didasarkan pada Alkitab, sebagai sumber pengajaran pendidikan Kristen di SM anda?

Apakah bahan-bahan pelajarannya memberikan lebih banyak fakta-fakta Alkitab dari pada interpretasi atau tafsiran yang kurang tepat?

Apakah bahan pelajarannya mengajarkan kebenaran Firman Tuhan secara konsisten?

Apakah bahan pelajarannya mengajarkan kebenaran Alkitab secara lengkap, jelas dan apa adanya, termasuk mujizat dan keajaiban yang Tuhan Yesus lakukan?

Apakah bahan pelajarannya mengajak murid untuk memiliki hubungan dengan Tuhan semakin dekat dan pribadi?

Apakah bahan pelajarannya mengajar murid untuk memiliki komitmen yang jelas dengan Tuhan?

Apakah bahan pelajarannya mengajar murid untuk memiliki iman percaya yang kuat kepada-Nya?

B. FALSAFAH:
Bagaimana kurikulum didesign?

Apakah bahan pelajarannya memiliki tujuan pengajaran yang jelas dan dapat dijalankan/dicapai?

Apakah bahan pelajarannya memiliki kunci pengajaran yang jelas sesuai dengan tujuan pengajaran?

Apakah bahan pelajarannya memiliki keseimbangan pengajaran yang baik antara iman (pengetahuan) dan perbuatan (aplikasi)?

Apakah bahan pelajarannya sesuai dengan tingkat kemampuan murid-murid dan juga interest dan kebutuhannya?

Apakah bahan pelajarannya memungkinkan murid untuk mereview pelajaran sebelumnya sehingga murid dapat terus mengingat pelajaran yang telah diberikan?

Apakah bahan pelajaran memiliki tingkat kesulitan yang merata dan meningkat sesuai dengan bertambahnya usia anak?

Apakah bahan pelajarannya memberikan ruangan bagi guru untuk berkreasi dengan leluasa?

Apakah bahan pelajarannya cukup fleksibel sehingga guru dapat menambah dengan materi-materinya sendiri yang sesuai dengan kebutuhan anak didiknya?

C. METODOLOGI: Bagaimana kurikulum menolong menyajikan pelajaran?

Apakah bahan pelajarannya menawarkan teknik mengajar yang kreatif?

Apakah bahan pelajarannya memakai alat-alat mengajar yang sederhana dan cocok untuk digunakan dalam segala keadaan?

Apakah bahan pelajarannya menyediakan alat-alat belajar yang mendorong murid untuk belajar lebih mudah dan menyenangkan?

Apakah bahan pelajarannya cukup fleksibel digunakan di berbagai konteks belajar mengajar?

Apakah bahan pelajarannya juga menyediakan tambahan materi pelengkap agar guru dapat belajar lebih luas?

Apakah bahan pelajarannya dapat digunakan baik oleh guru yang berpengalaman atau yang belum berpengalaman?

Apakah bahan pelajarannya mendorong guru untuk bereksperimen dan memberi keleluasaan untuk mengembangkan gaya mengajarnya sendiri?

Sumber:
Childhood Education in the Church, Robert E. Clark, Joanne Brubaker, & Roy B. Zuck, , halaman 261 - 263, Moody Press, Chicago, 1986.
Christian Education: Foundations for the Future, Robert E. Clark, , halaman 499 - 501, Moody Press, Chicago.
Buku Pedoman Guru
BUKU PEDOMAN GURU

Gereja Dewasa ini memerlukan guru-guru yang terlatih, yang mencurahkan seluruh perhatiannya kepada persiapan, seluruh hatinya kepada penyajiannya, serta seluruh hidupnya pada pelajaran. Guru harus memiliki satu pedoman yang dapat digunakan untuk mempersiapkan seluruh pelajaran. Dengan adanya buku pedoman, guru dapat mengadakan persiapan yang matang sehingga dapat bersikap tenang di depan kelas, menguasai bahan pelajaran dan memiliki pengetahuan tambahan tentang kebenaran Alkitab.

Dalam mempelajari pelajarannya, seorang guru akan membaca Alkitab. Mula-mula untuk mengetahui ceritanya, kemudian untuk mengetahui kejadian-kejadiannya, berikutnya untuk orang-orang yang disebutkan di dalam cerita itu, lalu memahami doktrin dan ajarannya yang praktis; dan akhirnya untuk mengetahui inti cerita itu. Setelah penyelidikan yang dilakukan sendiri, guru harus mencari keterangan tambahan dari buku pedoman guru dan lain sumber. Dengan mengikuti urutan ini, dia secara pribadi menemukan banyak fakta yang disebutkan di dalam sumber-sumber lain itu dan merasa puas telah meletakkan dasar bagi pengajarannya.

Buku pedoman guru harus melengkapi pengetahuan untuk guru sendiri. Buku itu harus dipakai bersamaan dengan Alkitab, jangan sebagai penggantinya. Setiap guru yang memakai buku pedoman guru tanpa menelaah ayat-ayat Alkitab itu terlebih dahulu tidak mungkin akan menyajikan pikiran-pikiran atau pengajaran yang ditemukannya sendiri.

Buku-buku pelengkap (supplement) lain adalah misalnya buku-buku yang menjelaskan ayat-ayat yang sukar, memberikan contoh dan lukisan yang cocok, dan memberikan keterangan yang diperlukan tentang tata cara dan kebiasaan kuno. Guru hendaknya memakai buku-buku yang berpusat pada Alkitab serta menghormati Kristus sehingga dia bisa memperoleh pengertian, penafsiran, dan penerapan yang benar dari nats Alkitab.

Buku pedoman guru adalah modal yang berharga karena menyediakan bahan pelajaran Alkitab dan keterangan untuk bisa mengerti hubungan bahan ini dengan kelompok usia yang akan diajar.

1. Bahan Pelajaran Alkitab

Buku pedoman guru dapat merupakan sumber penelaahan Alkitab yang bermanfaat, yang berkaitan secara langsung dengan pelajaran. Meskipun pedoman guru itu harus dipelajari, tidaklah perlu membatasi pengajaran dengan isinya. Bacaan Injili bagi program pendidikan di gereja biasanya berisi bahan keterangan alkitabiah yang baik untuk memberikan kepada guru suatu dasar yang luas untuk mengerti isi pelajaran.

2. Memperhatikan Kelompok Usia

Melayani murid-murid berarti memenuhi kebutuhan mereka yang mendalam. Buku pedoman guru dapat menolong guru mengerti murid- muridnya dan kelompok usianya serta melihat bagaimana pengetahuan Alkitab dapat memenuhi masalah kehidupan masa kini. Seringkali dalam buku pedoman diketengahkan masalah-masalah yang sama dengan masalah yang terdapat dalam suatu kelas tertentu, karenaya pelajaran dapat disesuaikan dengan suatu kebutuhan yang telah diketahui.

Seorang guru yang sudah siap tidak perlu melihat buku pedoman selama jam pelajaran. Dengan mengajar dari Alkitab, dia mengingatkan murid-muridnya bahwa pengajaran Kristen berasal dari Firman Allah yang diilhami. Sikapnya terhadap Alkitab menyatakan dengan jelas betapa tinggi mutunya.

BUKU PEDOMAN MURID

Selain buku pedoman guru, dalam pelayanan Sekolah Minggu ada pula buku pedoman untuk murid. Buku Pedoman Murid adalah alat pengungkapan yang penting. Buku itu menggambarkan dan menetapkan tanggapan murid terhadap pengajaran. Buku pedoman itu hanyalah sebuah alat untuk mencapai tujuan dan bukannya tujuannya sendiri Guru yang sangat mementingkan kebersihan dan kerapian buku-buku pedoman murid-muridnya itu akan menggagalkan tujuan utamanya.

Dengan anak-anak yang lebih tua, sebaiknya buku pedoman murid itu dipelajari dan dikerjakan di rumah. Atas dasar pekerjaan mereka ini, guru dapat membangun struktur pendidikan yang unggul. Seorang guru yang baik akan meminta kerjasama keluarga si pelajar, karena tanpa kerjasama itu, pelajar hanya membuat sedikit persiapan saja atau tidak sama sekali.

Dalam keadaan-keadaan tertentu, sebagian dari jam pelajaran dapat dipergunakan untuk pelajaran yang diawasi. Pekerjaan tertulis yang ada dalam buku pedoman dapat dikerjakan pada saat ini. Banyak guru yang telah memakai metode ini dengan hasil yang baik. Mereka mematuhi prinsip pendidikan, yaitu mengajar adalah mendapatkan tanggapan.

Untuk anak-anak di atas usia taman kanak-kanak, setiap buku pedoman murid harus meliputi:

1. Pekerjaan Menulis

Mungkin ada tempat kosong yang harus diisi, kalimat yang harus disempurnakan. Tambahan tugas penulisan yang kreatif akan menolong murid untuk menuliskan pengetahuannya dan menyediakan tanggapan pribadi terhadap pengajaran.

2. Pekerjaan Mencari

Murid yang diminta untuk mencari suatu jawaban di dalam Alkitab mungkin sekali akan mengingat keterangan itu. Aktivitasnya akan memberi kesan pada pribadinya dan memperkembangkan inisiatifnya untuk menemukan kebenaran.

3. Pekerjaan Menggambar

Pelajaran itu akan lebih tertanam apabila murid menggambar sebuah peta, tabel, grafik atau gambar. Gambaran ini tidak perlu betul atau sempurna sekali. Peta Palestina mungkin menunjukkan perbatasan, yaitu Laut Tengah, Danau Galilea, Sungai Yordan, dan Laut Mati. Pelajar itu dapat menunjukkan serta menuliskan nama beberapa kota penting. Inilah faktor-faktor ilmu bumi yang pokok bagi pelajaran tentang kehidupan Kristus. Lain-lain hal dapat ditambahkan sementara cerita itu berlangsung.

4. Pekerjaan Menerapkan

Pencarian akan pengetahuan dan pengertian telah mencapai sasarannya ketika murid sanggup mengalihkan ide-ide baru menjadi pengalaman dalam kehidupannya sendiri.
Sumber:
Teaching Techniques, Clarence H. Benson, , halaman 49 - 57, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1986.

1 comment:

meylanshinning_gril said...

shalom.... saya mau bertanya tulisan tentang guru sekolah minggu yang sudah dijelaskan itu di ambil dari sumber mana ya?? (buku dan nama pengarang bukunya atau sumber lain semacammnya)